
Kesenjangan literasi keuangan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia kian menyempit. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks literasi keuangan perempuan mencapai 69,61%, hampir menyamai angka nasional sebesar 69,57%. Indeks inklusi keuangan perempuan bahkan lebih tinggi, yaitu 93,73%, dibanding rata-rata nasional 93,61%.
Survei yang melibatkan 75.000 responden berusia 15-79 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota itu memberi gambaran bahwa persoalan utama kini bukan lagi soal pengetahuan dasar, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi keberanian mengambil keputusan finansial. Faktor seperti ketersediaan dana, kepercayaan terhadap platform, keamanan, persepsi risiko, hingga akses ke informasi dan komunitas relevan masih menjadi pertimbangan banyak perempuan sebelum menabung, berinvestasi, atau memakai layanan keuangan digital.
Baca juga:
- EKSiS 2026: Prudential Syariah Perkuat Literasi Keuangan Syariah
- Prudential Syariah Perkuat Literasi Keuangan Mahasiswa UNAIR
Komunitas dan Peluang Ekonomi Digital
Menyikapi tren ini, BTSE Indonesia yang resmi meluncur pada 3 Juli 2026 aktif menggelar edukasi dan interaksi komunitas di sejumlah kota seperti Jakarta, Surakarta, Semarang, dan Bali, termasuk lewat ajang Indonesia Blockchain Week dan Coinfest Asia. Salah satu isu yang diangkat adalah konsep financial agency, yakni bagaimana ekonomi digital membuka jalan baru untuk berpartisipasi dan menghasilkan nilai ekonomi, baik sebagai kreator, pengelola komunitas, wirausahawan, maupun affiliate, tanpa harus terikat model kerja konvensional.
SVP Marketing BTSE Indonesia, Rieka Handayani, menyebut program afiliasi perusahaan membuka peluang komisi hingga 70% dari net trading fees pengguna yang direferensikan. Menurutnya, skema ini bisa menjadi alternatif pendapatan tambahan bagi perempuan yang memiliki jaringan, audiens, atau komunitas sendiri.
Momentum ini bertepatan dengan Bulan Literasi Keuangan 2026 yang digagas OJK bersama TP-PKK dengan tema Perempuan Berdaya Finansial, yang menyoroti peran perempuan dalam memperkuat ketahanan keuangan keluarga. Chief Strategy Officer BTSE Indonesia, Stephanie Kusnadi, menegaskan bahwa dengan kesenjangan literasi berdasarkan gender yang kini nyaris tertutup, tantangan industri selanjutnya adalah memastikan produk, edukasi, dan komunitas yang tersedia benar-benar mencerminkan perempuan sebagai pengambil keputusan finansial yang setara, sekaligus membantu mengubah pengetahuan menjadi kepercayaan diri dan partisipasi yang lebih bermakna.
Sumber: BTSE Indonesia.





