
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan setelah sebelumnya turun lebih dari 3%. Menurut analisis Geraldo Kofit, analis dari Dupoin Futures, pergerakan WTI pada grafik empat jam (H4) membentuk pola Rising Wedge yang biasanya menjadi sinyal potensi pembalikan arah dari tren naik menuju tren turun.
Sinyal Teknikal dan Level Support
Pola Rising Wedge terbentuk ketika harga masih mencatat kenaikan, namun ruang pergerakannya kian menyempit sehingga tekanan jual berpotensi meningkat. Dupoin Futures menilai apabila tekanan jual berlanjut, harga WTI berpeluang menuju area support di kisaran 98,46 hingga 96,07. Jika level 98,46 berhasil ditembus, penurunan lanjutan menuju 96,07 dinilai semakin terbuka.
Baca juga:
- Harga Emas Hari Ini 16 September 2026, Cermati Level 4.277
- XAUUSD Tertahan di 4.355, Harga Emas Berisiko Turun ke 4.223
Faktor Fundamental: Pasokan dan Inflasi
Pelemahan harga turut dipicu oleh laporan peningkatan pasokan crude oil dari Arab Saudi, yang memunculkan kekhawatiran pasar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan minyak global. Di sisi lain, harga energi yang lebih rendah berpotensi meredakan tekanan inflasi global, sehingga memberi ruang bagi bank sentral seperti Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Meski demikian, risiko geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang dapat membatasi penurunan lebih lanjut. Kawasan tersebut merupakan simpul penting rantai pasokan energi dunia, sehingga eskalasi ketegangan sewaktu-waktu bisa memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan mendorong volatilitas harga minyak.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures memperkirakan WTI masih condong bearish dalam jangka pendek selama tekanan jual berlanjut, dengan area 98,46 sebagai support awal sebelum berpotensi menuju 96,07. Pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan pasokan global dan dinamika geopolitik Timur Tengah yang dapat mengubah arah harga secara cepat.
Sumber: PT. Dupoin Futures Indonesia.





