
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026, tumbuh 17,5% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan capaian ini didukung penguatan fundamental, perbaikan kualitas aset, serta peningkatan efisiensi operasional perseroan.
Secara konsolidasian, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% yoy, ditopang oleh penyaluran kredit dan pembiayaan yang naik 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut didukung Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7% yoy. Dari sisi rasio keuangan, Return on Equity (ROE) BRI naik dari 16,6% menjadi 18,8%, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) membaik dari 3,0% menjadi 2,9%.
Baca juga:
- Omzet Naik tapi Laba Menipis? Ini Penyebab yang Terlewat
- Laba IPCC Turun Tipis di Semester I 2026, Tetap Bebas Utang
UMKM Tetap Jadi Fokus Utama
Sekitar 75,1% dari total portofolio kredit BRI Group, atau senilai Rp1.235,4 triliun, disalurkan kepada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), tumbuh 8,6% yoy. Sepanjang semester pertama 2026, BRI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur, sehingga total penyaluran KUR sejak 2015 mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.
Selain pembiayaan, BRI menjalankan program pemberdayaan UMKM secara berjenjang, mulai dari Desa BRILiaN yang telah menjangkau lebih dari 5.700 desa, Klasterku Hidupku dengan lebih dari 44 ribu klaster usaha, hingga platform digital LinkUMKM yang menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku usaha. Menurut Hery, pendekatan pembiayaan dan pemberdayaan yang berjalan beriringan diharapkan mendorong pelaku UMKM naik kelas dan semakin terintegrasi ke ekosistem ekonomi yang lebih besar.
Hery menegaskan transformasi bisnis melalui program BRIVolution Reignite mulai membuahkan hasil pada kinerja keuangan, dengan efisiensi biaya dana dan operasional yang membaik seiring pertumbuhan bisnis yang lebih terdiversifikasi.
Catatan Redaksi. ROE mengukur seberapa efisien bank menghasilkan laba dari modal pemegang saham, sedangkan NPL menunjukkan proporsi kredit yang berpotensi macet dari total pinjaman yang disalurkan, sehingga kenaikan ROE bersamaan penurunan NPL biasanya dibaca sebagai tanda kualitas aset yang membaik. KUR sendiri adalah skema kredit bersubsidi bunga dari pemerintah yang disalurkan lewat bank untuk mendorong akses pembiayaan usaha mikro dan kecil.
Sumber: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.





