
Perusahaan kontraktor Waringin Megah General Contractor menegaskan bahwa kepercayaan klien tidak cukup dibangun dari proyek yang selesai tepat waktu, melainkan dari kemampuan memberi solusi saat situasi di lapangan berubah tidak sesuai rencana. Perubahan desain, pergeseran jadwal, hingga tekanan biaya menjadi ujian yang menurut perusahaan justru menunjukkan siapa yang layak dipercaya klien.
Berdiri di Surabaya sejak 1987, Waringin Megah telah menangani berbagai proyek untuk klien korporasi seperti AVIAN Group dan Jasuindo. Dalam dua tahun terakhir, segmen pabrik dan gudang menjadi salah satu andalan portofolio perusahaan, melengkapi proyek gedung olahraga, rumah tinggal, perkantoran, hingga sentra kuliner.
Sektor Konstruksi Topang Ekonomi Nasional
Badan Pusat Statistik mencatat sektor konstruksi menyumbang sekitar 9,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2025, menjadikannya salah satu sektor ekonomi terbesar di dalam negeri. Semakin besar skala proyek, semakin besar pula tekanan yang harus dikelola kontraktor agar kualitas tetap terjaga.
Di bawah kepemimpinan Hermash Budi, perusahaan menempatkan analisis dampak biaya, waktu, kualitas, dan risiko sebagai dasar setiap keputusan sebelum solusi ditentukan. “Dalam konstruksi, perubahan tidak dapat sepenuhnya dihindari. Yang penting adalah bagaimana kita meresponsnya,” ujar Hermash. Pendekatan ini juga menjadikan komunikasi terbuka dengan klien sebagai bagian dari strategi saat tekanan proyek meningkat.
Perkuat Tata Kelola dan Keselamatan Kerja
Tahun ini, Waringin Megah memperbarui sertifikasi ISO 37001 tentang sistem manajemen anti-penyuapan sebagai bentuk komitmen terhadap tata kelola berintegritas. Perusahaan juga menerapkan manajemen Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan Kerja mengacu pada ISO 45001:2018, guna menjaga keselamatan pekerja sekaligus meminimalkan dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar proyek.
Catatan Redaksi. ISO 37001 adalah standar internasional untuk sistem manajemen anti-penyuapan, mengatur prosedur pencegahan, deteksi, dan penanganan praktik suap dalam operasi perusahaan. Sementara ISO 45001 mengatur sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, mencakup identifikasi risiko kecelakaan di lokasi proyek hingga prosedur mitigasinya. Kedua sertifikasi ini lazim dijadikan tolok ukur tata kelola oleh perusahaan konstruksi karena sektor tersebut tergolong berisiko tinggi dari sisi keselamatan kerja dan rawan praktik suap dalam proses tender maupun perizinan proyek.
Sumber: Waringin Megah.





