
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menggelar forum temu bisnis (business matching) di Banda Aceh pada Selasa (22/9/2026) untuk mempertemukan pelaku usaha mikro terdampak bencana dengan jaringan ritel modern. Kegiatan ini merupakan puncak dari layanan Klinik UMKM Bangkit Aceh yang telah berjalan sejak Maret 2026 melalui kolaborasi dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Aceh serta Asosiasi Profesi Pendamping Entrepreneur Indonesia (ASPPENDO).
Dari forum tersebut, 25 usaha mikro terpilih berhasil menyepakati komitmen kemitraan awal dalam bentuk Letter of Intent (LOI) dengan sejumlah peritel besar seperti Suzuya Group, Alfamart, Indomaret, Simpang Lima, Aroma, dan Pusaka Souvenir Gallery. Total potensi nilai transaksi dari kesepakatan ini diperkirakan mencapai Rp2,54 miliar.
Bagian dari Program KUMITRA
Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Mikro Kementerian UMKM, Pristiyanto, menjelaskan bahwa kegiatan di Aceh merupakan bagian dari Program KUMITRA (Kemudahan Usaha Mikro untuk Bermitra). Menurutnya, program ini telah dilaksanakan di empat lokasi yakni Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Tangerang, dan Aceh, dengan total potensi transaksi melalui LOI mencapai Rp13,74 miliar.
Plt. Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Reghi Perdana, menegaskan bahwa kepastian pasar menjadi kunci utama pemulihan usaha mikro pascabencana. Ia menyebut bahwa pelatihan dan bantuan sarana usaha tidak akan optimal tanpa akses pemasaran yang jelas dan berkelanjutan.
Salah satu peserta program, Nova, pemilik usaha Inovasi Cantik asal Aceh Tamiang yang galerinya sempat hanyut akibat banjir, mengaku pendampingan ini membantunya memahami standar kurasi mutu dan kemasan yang dibutuhkan pasar ritel modern. Ke depan, Kementerian UMKM berencana memperluas kemitraan ke sektor perhotelan dan pariwisata bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) agar produk khas Aceh dapat masuk ke rantai pasok industri pariwisata.
Sumber: Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM).





