Kebun Kopi Ijen PTPN I: Warisan Kolonial yang Masih Menghidupi

Kebun Kopi Ijen PTPN I: Warisan Kolonial yang Masih Menghidupi
Ilustrasi (AI)

Kebun kopi arabika di lereng Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang sejak dirintis pengusaha asal Belanda, Gerhard David Birnie, pada tahun 1890-an. Perkebunan yang awalnya dikenal sebagai Blawan atau Mount Blau itu kemudian berkembang dengan pembukaan perkebunan Kalisat/Jampit pada 1927. Setelah kemerdekaan, aset ini dinasionalisasi dan kini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group).

Kawasan yang berada di ketinggian sekitar 1.100–1.550 meter di atas permukaan laut ini dikenal sebagai Biosite Kopi Bondowoso, mencakup perkebunan negara dan perkebunan rakyat di Kecamatan Ijen dan Sumberwringin. Tanah vulkanik yang subur, iklim sejuk pegunungan, serta praktik budidaya yang diwariskan lintas generasi membentuk karakter khas kopi arabika Ijen, yakni keasaman menonjol, aroma intens, dan sentuhan rasa manis menyerupai cokelat. Kopi Arabika Bondowoso bahkan telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Lebih dari Sekadar Produksi

Di antara tanaman kopi, terdapat pohon penaung seperti suren, dadap, kayu manis, pinus, dan kayu putih yang menjaga suhu serta kelembapan kawasan sekaligus menopang ekosistem bagi fauna dan serangga penyerbuk. Bagi PTPN I, Kebun Ijen bukan sekadar aset ekonomi penghasil komoditas, melainkan juga ruang sosial yang menghidupi pekerja dan masyarakat sekitar, serta ruang ekologis yang perlu dijaga keberlanjutannya.

Jejak sejarah itu masih dapat disaksikan langsung, salah satunya di Jampit Guest House yang dibangun pada 1927 dan kini dikelola PTPN I Regional 5. Bangunan dengan lantai kayu dan arsitektur klasik peninggalan Belanda ini menjadi saksi bagaimana perkebunan telah menghidupi beberapa generasi pekerja yang datang dari Bondowoso, Banyuwangi, Jember, hingga Malang.

Ke depan, PTPN I menyebut masih terbuka ruang pengembangan bagi Kebun Ijen, mulai dari penguatan kualitas produksi, hilirisasi produk kopi, pengembangan wisata agro, edukasi, hingga perluasan akses pasar. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah kopi Ijen tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan dan pengetahuan yang telah diwariskan lebih dari satu abad.

Catatan Redaksi. Indikasi Geografis adalah tanda pengenal resmi yang menyatakan suatu produk berasal dari wilayah tertentu dengan karakteristik khas akibat faktor alam dan keahlian lokal, sehingga nama seperti Kopi Arabika Bondowoso tidak bisa sembarangan dipakai produk dari daerah lain. Pohon penaung seperti suren dan dadap juga bukan sekadar peneduh, melainkan bagian dari sistem agroforestri yang menjaga kelembapan tanah dan menyediakan habitat bagi serangga penyerbuk, sehingga produktivitas kebun kopi tetap terjaga secara alami.

Sumber: PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), Holding Perkebunan Nusantara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan