
PT Perkebunan Nusantara I (Persero), subholding dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group), mempercepat optimalisasi lahan untuk pengembangan sejumlah komoditas pangan strategis. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap agenda hilirisasi pertanian yang didorong pemerintah melalui Kementerian Pertanian, sekaligus memperkuat swasembada pangan dan kemandirian energi nasional.
10.000 Hektare untuk Jagung
Salah satu langkah konkret PTPN I adalah menyiapkan lahan seluas 10.000 hektare untuk pengembangan jagung. Areal yang digunakan merupakan lahan perkebunan yang tengah memasuki masa persiapan peremajaan tanaman, sehingga dapat dimanfaatkan sementara untuk tanaman pangan produktif. Produksi jagung ini diharapkan memperkuat pasokan untuk kebutuhan pangan dan industri pakan ternak.
Baca juga:
- PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara Siapkan Proyek Percontohan Kedelai untuk Dukung Target Swasembada Pangan
- Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 2 Siapkan Restorasi 14.000 Hektare Pascabencana Pasirlangu
Ubi Kayu, Kedelai, hingga Bawang Putih
Di Lampung, melalui PTPN I Regional 7, perusahaan menargetkan pengembangan ubi kayu hingga 10.000 hektare, dengan tahap awal sekitar 7.313 hektare yang digarap bersama 11 mitra. Ubi kayu dinilai punya prospek luas, baik sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri, termasuk bioetanol untuk mendukung kemandirian energi.
Di Sumatera Utara, PTPN I Regional 1 mengoptimalkan sekitar 270 hektare lahan untuk kedelai. Sementara di Jawa Barat, perusahaan melakukan uji coba penanaman bawang putih di lahan seluas 2 hektare sebagai bagian dari upaya membangun model budi daya komoditas hortikultura.
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan optimalisasi lahan tidak hanya diukur dari luas areal yang digarap, melainkan juga dari produktivitas, keekonomian, dan keberlanjutan rantai nilai yang dibangun. Ia menekankan bahwa percepatan hilirisasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, BUMN, swasta, petani, lembaga riset, dan pelaku industri agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.
Catatan Redaksi. Praktik menanam jagung atau ubi kayu di lahan perkebunan yang sedang diremajakan disebut tumpang sari, cara memanfaatkan lahan kosong sebelum tanaman utama seperti sawit atau karet baru ditanam kembali. Bioetanol yang disinggung merupakan bahan bakar nabati dari fermentasi bahan bergula atau bertepung seperti ubi kayu, salah satu opsi campuran BBM untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Sumber: PT Perkebunan Nusantara I (Persero).





