
Kinerja sejumlah emiten tambang di bawah Holding Industri Pertambangan Indonesia atau MIND ID menjadi sorotan investor menjelang paruh kedua 2026. Meski harga komoditas global bergerak dinamis dan ekosistem industri pertambangan terus bertransformasi, sejumlah anggota grup ini justru membukukan hasil positif sepanjang semester I 2026.
Laba INCO dan TINS Tumbuh
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba periode berjalan sebesar 25,24 juta dolar AS. Kinerja lebih mencolok ditorehkan PT Timah Tbk (TINS) yang membukukan laba bersih semester I 2026 sebesar Rp2,71 triliun, jauh melampaui target laba bersih sepanjang tahun yang dipatok Rp1,61 triliun, atau setara 169 persen dari target perusahaan.
Fase Normalisasi, Bukan Pelemahan
Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menilai sektor pertambangan saat ini tengah memasuki fase normalisasi setelah periode supercycle harga komoditas, bukan penurunan struktural. Menurutnya, laba yang tak lagi setinggi masa lonjakan harga bukan berarti fundamental perusahaan memburuk, melainkan pasar mulai menilai emiten berdasarkan efisiensi operasional, kesehatan neraca, dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Ia menyebut prospek INCO dan TINS ke depan akan banyak dipengaruhi pergerakan harga komoditas global, realisasi volume produksi, serta kemampuan menjaga margin di tengah siklus pasar yang lebih menantang.
Hilirisasi ANTM dan Dividen PTBA
Edwin melihat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki katalis jangka panjang melalui hilirisasi mineral dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Salah satu proyeknya adalah fasilitas baterai terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, bersama PT Industri Baterai Indonesia dan konsorsium HYD Investment Limited, dengan nilai investasi awal mencapai 5,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp96,04 triliun. Fasilitas ini ditargetkan beroperasi komersial pada 2026 dengan kapasitas awal yang direncanakan diperluas hingga 15 gigawatt hour, setara kebutuhan sekitar 250 ribu unit kendaraan listrik.
Adapun PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai menarik bagi investor yang mengincar stabilitas arus kas dan dividen. Dalam lima tahun terakhir, rasio pembayaran dividen PTBA berkisar 35 hingga 100 persen dari laba bersih, dengan pembagian terbesar berasal dari laba tahun buku 2022 senilai Rp12,57 triliun. Edwin memperkirakan fokus investor pada semester II 2026 akan bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan laba tinggi, menuju perhatian pada kualitas laba, keberlanjutan arus kas, disiplin belanja modal, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Sumber: Purwanto Asset Management.





