NFP September 2026: Dampaknya ke Dolar AS dan Harga Emas

NFP September 2026: Dampaknya ke Dolar AS dan Harga Emas
Ilustrasi (AI)

Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat untuk September 2026 menjadi salah satu data ekonomi yang paling dinanti pelaku pasar global. Data ketenagakerjaan ini dianggap penting karena dapat memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), sekaligus pergerakan dolar AS dan harga emas dunia.

Berdasarkan survei ekonom Reuters, jumlah tenaga kerja AS di luar sektor pertanian diperkirakan hanya bertambah sekitar 90.000 pada September, melambat dibandingkan kenaikan 162.000 pada Agustus. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level 4,1%. Selain angka headline, pasar juga mencermati pertumbuhan upah karena The Fed masih menghadapi tekanan inflasi.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Dampak ke Dolar AS

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa data tenaga kerja yang lebih kuat dari ekspektasi dapat membuat pasar menilai perekonomian AS masih solid, sehingga ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan mendukung penguatan dolar AS. Sebaliknya, jika pertumbuhan pekerjaan jauh di bawah perkiraan disertai kenaikan pengangguran, pasar dapat mulai memperhitungkan perlambatan ekonomi yang berpotensi menekan yield obligasi dan dolar AS.

Dampak ke Harga Emas

Menurut Geraldo, pergerakan XAU/USD akan sangat bergantung pada kombinasi angka NFP, tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah. Data yang lebih kuat berpotensi menekan emas lewat penguatan dolar dan kenaikan yield, sementara data yang lebih lemah dapat membuka ruang penguatan emas. Menjelang rilis NFP, Reuters mencatat harga emas sempat turun 0,6% ke level US$4.154,78 per troy ounce dan berada di jalur pelemahan lebih dari 3% dalam sepekan, seiring penguatan indeks dolar AS ke kisaran 102,09 serta yield Treasury 10 tahun yang sempat menyentuh 5,344%, tertinggi sejak 2002.

Sinyal tambahan juga datang dari sektor manufaktur AS. ISM Manufacturing PMI September tercatat 54,5, sedikit turun dari Agustus namun masih menunjukkan ekspansi, dengan Prices Index yang melonjak dari 71,1 menjadi 77,9, mengindikasikan tekanan biaya input kembali meningkat. Kondisi ini membuat data pertumbuhan upah dalam laporan NFP semakin relevan bagi arah kebijakan The Fed ke depan.

Sumber: Dupoin Futures (PT. Dupoin Futures Indonesia).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan