
Perluasan industri pengolahan nikel di Sulawesi dinilai ikut membentuk lanskap ekonomi baru di sejumlah daerah penghasil mineral. Perpanjangan rantai nilai nikel di dalam negeri membuka ruang bagi investasi, penyerapan tenaga kerja, dan tumbuhnya kegiatan ekonomi pendukung di sekitar kawasan industri.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan PDRB mencapai Rp206,70 triliun atas dasar harga berlaku, atau Rp110,41 triliun atas dasar harga konstan 2010.
Baca juga:
- Hilirisasi Nikel Morowali Butuh Sinkronisasi Pusat-Daerah
- Indonesia Perkuat Hilirisasi Mineral Kritis untuk Teknologi Masa Depan
Ekonom CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai rantai nilai kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan integrasi dari hulu ke pengolahan. Menurutnya, sektor hulu sudah mencapai tingkat kematangan tinggi, sementara midstream dan downstream masih terus berkembang dan berpotensi memberi dampak lebih besar bagi ekonomi daerah ke depan.
Transformasi di Morowali
Faisal mencontohkan Morowali dan Morowali Utara di Sulawesi Tengah sebagai wilayah yang mengalami transformasi struktur ekonomi dalam satu dekade terakhir. Jika sebelumnya perekonomian kawasan ini bertumpu pada pertambangan dan pertanian, kini lebih dari 75% aktivitas ekonominya ditopang sektor industri.
Di sisi investasi, PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Grup MIND ID, tercatat mengembangkan proyek pertumbuhan di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako sebagai bagian dari ekspansi rantai nilai nikelnya. Pengembangan ini mencakup fasilitas berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan antara yang digunakan dalam rantai pasok material baterai, dengan proyek yang mencakup Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako Limonite.
Para pengamat menilai tantangan ke depan bukan hanya soal peningkatan kapasitas produksi, melainkan juga memastikan hilirisasi menghasilkan manfaat yang lebih luas, mulai dari pengembangan tenaga kerja lokal, keterlibatan usaha daerah, hingga pengelolaan dampak lingkungan secara berkelanjutan.
Catatan Redaksi. HPAL atau High Pressure Acid Leach adalah metode pengolahan bijih nikel kadar rendah (limonit) menggunakan asam bertekanan tinggi dan suhu panas untuk melarutkan kandungan logamnya, berbeda dari metode pengolahan bijih kadar tinggi yang lebih umum dipakai untuk nikel matte atau feronikel. Hasilnya, MHP atau Mixed Hydroxide Precipitate, adalah produk antara berupa senyawa nikel dan kobalt yang masih perlu diolah lebih lanjut sebelum menjadi bahan baku katoda baterai kendaraan listrik, sehingga posisinya berada di tengah rantai nilai, bukan produk akhir.
Sumber: MIND ID dan PT Vale Indonesia Tbk.





