Sanggabiz 2025: Jangkau 10.000 Peserta di 400 Organisasi

Sanggabiz 2025: Jangkau 10.000 Peserta di 400 Organisasi
Ilustrasi (AI)

Trainer dan konsultan eksekusi strategis Dwi Andi Rohmatika, yang dikenal dengan inisial DA, merilis rekap dampak program pelatihan bersama Sanggabiz untuk periode 2025. Sepanjang tahun tersebut, ekosistem pelatihan ini mengklaim telah menjangkau lebih dari 10.000 peserta melalui berbagai program training, talk, dan workshop.

Pencapaian itu didukung oleh lebih dari 400 Expert dan Trainer yang terlibat dalam proses pengembangan kapasitas peserta. Selain itu, jumlah organisasi mitra juga tercatat naik signifikan menjadi lebih dari 400, dari sebelumnya hanya sekitar 100 organisasi. Mitra tersebut mencakup korporat multinasional, BUMN/BUMD, lembaga swadaya masyarakat, hingga instansi pemerintah.

Bacaan Lainnya

Komposisi Tim dan Pendekatan Kerja

Dari sisi internal, Sanggabiz menyebut konsisten menjaga komposisi tim yang inklusif, dengan sekitar 65 hingga 80 persen anggota tim merupakan perempuan dan sekitar 10 persen berasal dari komunitas disabilitas. Dalam menjalankan operasionalnya, tim juga mulai mengintegrasikan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) ke dalam alur kerja, mengacu pada metode internal yang disebut RAPI — singkatan dari Organized, Automation, System, dan tanggung jawab dalam eksekusi.

“Angka bagi kami bukan sekadar pencapaian, tapi bukti bahwa pendekatan inklusif dan berbasis eksekusi ini benar-benar bisa diukur dampaknya,” ujar Dwi Andi Rohmatika dalam keterangannya.

Ke depan, Sanggabiz menyatakan akan memperluas jangkauan dampaknya ke sektor UMKM di Indonesia, sejalan dengan visi menjadikan eksekusi strategi dan pertumbuhan inklusif sebagai gerakan yang lebih luas, bukan sekadar proyek jangka pendek.

Catatan Redaksi. BUMN dan BUMD adalah singkatan Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, perusahaan yang sahamnya dipegang pemerintah pusat atau daerah. Mencantumkan porsi perempuan dan komunitas disabilitas dalam tim adalah praktik umum pelaporan dampak organisasi, dipakai untuk menunjukkan inklusivitas diterapkan di dalam tim sendiri, bukan hanya pada program yang dijual ke klien.

Sumber: Sanggabiz.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan