
Platform pertukaran aset kripto Bittime menyoroti pengaruh data ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) terhadap pergerakan harga aset kripto. Sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bittime menilai perkembangan ekonomi global menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada 11 September 2026, harga Bitcoin berada di kisaran US$76.695, melemah 1,88% dalam 24 jam dan turun 5,00% dalam sepekan. Ethereum tercatat di sekitar US$2.452, terkoreksi 0,51% dalam sehari dan 2,16% dalam sepekan. Pelemahan ini terjadi di tengah pasar yang masih mencermati arah kebijakan suku bunga AS.
Baca juga:
- Bitcoin Terkoreksi ke US$76.695, Ethereum Ikut Turun Jelang FOMC 2026
- Harga Emas Hari Ini Berpeluang Tembus $4.500, Ini Analisisnya
Mengapa Data Makro Jadi Perhatian Investor?
Indikator seperti inflasi konsumen (CPI), data ketenagakerjaan (NFP), dan keputusan The Fed dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga, yang pada gilirannya memengaruhi imbal hasil obligasi, nilai dolar AS, dan minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto. Riset IMF tahun 2023 berjudul “The Crypto Cycle and US Monetary Policy” menemukan bahwa pengetatan kebijakan moneter AS memengaruhi pasar kripto lewat perubahan selera risiko investor, serta meningkatnya keterkaitan pasar kripto dengan pasar saham seiring masuknya investor institusional.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan reaksi pasar terhadap data ekonomi tidak semata bergantung pada apakah angkanya naik atau turun, melainkan bagaimana data itu dibandingkan dengan ekspektasi dan implikasinya terhadap kebijakan moneter ke depan. Menurutnya, data makro sebaiknya menjadi salah satu pertimbangan, bukan satu-satunya dasar keputusan investasi.
Aktivitas Pasar Spot dan Derivatif
Bittime juga mengutip laporan CoinMarketCap bertajuk August Exchange Monthly Report yang mencatat total volume perdagangan spot dan derivatif di 11 bursa yang dipantau mencapai sekitar US$4,23 triliun pada Agustus 2026, naik 12,3% dari bulan sebelumnya. Dari jumlah tersebut, transaksi derivatif mendominasi dengan porsi sekitar 86,2% atau setara US$3,65 triliun, sekitar 6,25 kali lipat volume perdagangan spot. Ryan mengingatkan bahwa besarnya aktivitas derivatif turut membawa risiko, terutama pada transaksi berleverage yang rentan terhadap perubahan harga cepat, sehingga pemahaman mekanisme produk dan manajemen risiko menjadi penting sebelum bertransaksi.
Sumber: Bittime.





