
Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan jual pada perdagangan pekan depan. Menurut analisis Dupoin Futures, pergerakan XAUUSD pada grafik harian membentuk pola Head & Shoulder yang mengindikasikan sinyal bearish, membuka peluang koreksi menuju support terdekat di level 4.237.
Support dan Resistance Kunci
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pola tersebut mencerminkan perubahan momentum yang berpotensi meningkatkan tekanan jual. Level 4.237 dinilai sebagai support utama yang perlu dicermati, sementara level 4.409 menjadi resistance penting. Selama harga belum ditutup di atas 4.409, skenario pelemahan dinilai masih akan mendominasi pergerakan emas.
Baca juga:
- Harga Emas Pekan Depan: Dupoin Proyeksikan XAUUSD ke 4.634
- Prediksi Harga Emas XAUUSD Hari Ini: Berpeluang ke Level 4.360
Sentimen Fundamental yang Membayangi
Selain faktor teknikal, sejumlah sentimen global turut memengaruhi arah harga emas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong permintaan emas sebagai aset safe haven. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia ke atas US$100 per barel memicu kekhawatiran inflasi, yang dapat membuat pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama — kondisi yang cenderung menekan harga emas.
Data ekonomi Amerika Serikat juga menjadi sorotan, termasuk Producer Price Index (PPI) yang tercatat naik 0,4% secara bulanan. Data ini dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Jika tekanan inflasi terus menguat, peluang suku bunga bertahan tinggi meningkat dan berpotensi membebani harga emas; sebaliknya, tanda pelemahan inflasi dapat membuka ruang pemulihan bagi XAUUSD.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai XAUUSD masih berisiko melemah pada pekan depan, dengan target support di 4.237 selama harga belum mampu menembus resistance 4.409. Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan harga di antara kedua level tersebut sebagai acuan arah tren berikutnya.
Catatan Redaksi. Pola Head & Shoulder terbentuk dari tiga puncak harga, satu puncak tertinggi di tengah diapit dua puncak lebih rendah, dan dibaca analis teknikal sebagai tanda tren naik mulai kehabisan tenaga menuju pembalikan turun. Emas juga tidak memberi bunga seperti obligasi atau deposito, sehingga saat suku bunga bank sentral diperkirakan bertahan tinggi, menyimpan emas jadi terasa kurang menguntungkan dibanding aset berbunga, dan itu yang membuat harganya cenderung tertekan. PPI sendiri mengukur harga di tingkat produsen sebelum sampai ke konsumen, sehingga kenaikannya sering dipakai sebagai sinyal awal arah inflasi ke depan.
Sumber: PT Dupoin Futures Indonesia.





