
India dan Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor pertambangan dan batu bara agar tidak lagi sebatas perdagangan komoditas, melainkan meluas ke investasi, teknologi, mineral kritis, industri hilir, hingga keamanan rantai pasok. Arah kerja sama ini dibahas dalam roundtable bertajuk “Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors” yang digelar di Kedutaan Besar India, Jakarta, pada 11 September 2026, dengan dihadiri pejabat pemerintah, perusahaan tambang, asosiasi industri, dan investor kedua negara.
India Ingin Jadi Mitra, Bukan Sekadar Pembeli Bahan Mentah
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan negaranya tidak sekadar mengincar akses bahan baku, melainkan ingin bermitra dalam pembangunan industri Indonesia. Ia menilai kebijakan hilirisasi telah mengubah lanskap investasi, sehingga perusahaan India perlu melihat Indonesia sebagai lokasi membangun fasilitas pengolahan dan manufaktur, bukan hanya sumber mineral mentah. Pejabat Kementerian Pertambangan India turut memaparkan program National Critical Mineral Mission yang mencakup eksplorasi, lelang blok, hingga fasilitas pengolahan dan daur ulang.
Baca juga:
- APINDO Dorong Kolaborasi Digital Indonesia-India Lewat ION
- Kedutaan Besar India Tegaskan Komitmen Perluasan Kerjasama Strategis dengan Sumatera Selatan
Nikel dan 47 Mineral Kritis Jadi Sorotan
Indonesia disebut telah mengidentifikasi 47 jenis mineral kritis, sementara India memiliki sekitar 30 jenis, dengan nikel, kobalt, tembaga, dan rare earth elements menjadi kepentingan bersama. Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, mengungkapkan sekitar 450 perusahaan tambang nikel kini aktif berproduksi dan Indonesia memasok sekitar 65 persen kebutuhan nikel dunia. Namun ia menyoroti dominasi investor China yang menguasai sekitar 90 persen sektor hilir nikel, sebuah kondisi yang dinilai membuka peluang bagi India untuk masuk sebagai mitra baru.
Batu Bara Tetap Penting, tapi Diarahkan ke Hilirisasi
Delegasi India menyatakan batu bara masih berperan strategis bagi energi nasional mereka, namun pemerintah mendorong modernisasi teknologi dan pengembangan National Coal Gasification Mission untuk mengubah batu bara menjadi produk bernilai tambah. Sejumlah pelaku industri, termasuk dari Adani dan Danantara, menekankan pentingnya investasi bersama di rantai nilai mineral kritis, mulai dari pengolahan bijih hingga material baterai dan kendaraan listrik, agar kerja sama tidak berhenti pada tahap ekspor bahan mentah.
Sebagai tindak lanjut, pihak Kedutaan Besar India mengundang pelaku industri Indonesia untuk melanjutkan pembahasan dalam India Mining Week pada 15–17 November 2026, yang diharapkan dapat menghasilkan proyek investasi dan kemitraan yang lebih konkret antara kedua negara.
Catatan Redaksi. Mineral kritis adalah bahan tambang yang dianggap penting bagi teknologi strategis, seperti baterai kendaraan listrik dan energi bersih, namun pasokannya terbatas atau terkonsentrasi di segelintir negara sehingga rawan gangguan rantai pasok. Hilirisasi sendiri berarti mengolah bijih mentah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri, misalnya nikel menjadi bahan baterai, alih-alih hanya mengekspornya sebagai bahan mentah seperti praktik lama.
Sumber: Kedutaan Besar India di Jakarta (Embassy of India Jakarta).





