Strategi Dual Growth Pertamina: Genjot Migas Sekaligus EBT

Strategi Dual Growth Pertamina: Genjot Migas Sekaligus EBT

PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global yang kerap mengganggu rantai pasok dan mendorong kenaikan harga komoditas energi. Perusahaan energi pelat merah ini menjalankan strategi yang disebut dual growth, yakni pertumbuhan ganda yang memastikan kebutuhan energi hari ini tetap terpenuhi sambil menyiapkan sumber pertumbuhan baru untuk masa depan.

Dua Jalur Pertumbuhan

Strategi ini berjalan lewat dua jalur utama. Pertama, memaksimalkan bisnis eksisting (legacy business) berupa penguatan produksi minyak dan gas serta optimalisasi aset kilang untuk menjaga pasokan energi domestik. Kedua, membangun bisnis rendah karbon melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) seperti panas bumi, energi surya, dan bahan bakar nabati, ditambah teknologi seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (CCUS) serta hidrogen rendah karbon.

Bacaan Lainnya

“Bagi Pertamina, transisi energi bukan hanya mengenai bagaimana menurunkan emisi, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang semakin beragam, berkelanjutan, dan berasal dari potensi dalam negeri,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.

Di sektor panas bumi, anak usaha Pertamina Geothermal Energy (PGE) kini mengelola kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW), terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Angka ini setara sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional.

Dinilai Sebagai Transisi yang Aman

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai pendekatan dual growth tepat karena migas masih berperan penting memenuhi kebutuhan domestik meski cadangannya kian terbatas. Ia menyebut strategi mempertahankan bisnis migas sembari membangun ekosistem EBT sebagai safe transition yang menghindari guncangan mendadak pada kinerja perusahaan.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menambahkan, pengembangan EBT merupakan bagian dari program prioritas pemerintah untuk mendorong swasembada energi. Kementerian ESDM mencatat bauran EBT nasional pada semester I 2026 baru mencapai 17,3%, sementara pemerintah menargetkan angka itu naik menjadi 30% pada 2034. Pertamina menyebut seluruh upaya ini diarahkan untuk mendukung target Net Zero Emission pada 2060.

Catatan Redaksi. Bauran EBT yang dimaksud adalah porsi energi bersih, seperti panas bumi dan surya, dari total konsumsi energi nasional, sehingga capaian 17,3% menunjukkan jarak yang masih jauh menuju target 30% pada 2034. CCUS sendiri adalah teknologi menangkap emisi karbon dari proses industri lalu menyuntikkannya ke formasi geologi bawah tanah agar tidak terlepas ke atmosfer, berbeda dengan EBT yang mencegah emisi sejak awal pembangkitan energi.

Sumber: PT Pertamina (Persero).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan