Smile Train Selenggarakan Kegiatan Media untuk Tingkatkan Kesadaran pada Celah Bibir/Langit serta Dampak Terapi Wicara dan Perawatan Celah Komprehensif terhadap Kualitas Hidup Pasien

34

Jakarta, Januari 2020 – Smile Train, sebuah organisasi nirlaba terbesar di dunia, yang memberikan operasi perbaikan celah bibir dan langit, hari ini mengadakan kegiatan edukasi media untuk meningkatkan kesadaran mengenai celah bibir dan/atau langit dan menjelaskan dampak terapi wicara dan perawatan celah komprehensif terhadap kualitas hidup pasien. Hadir pada acara tersebut Rita Rahmawati, S.Pd, SST.TW, M.P.H, terapis wicara; drg.Andi S Budihardja SpBM(K), dokter spesialis bedah mulut; Deasy Larasati, Program Director & Country Manager Smile Train Indonesia, dan Bunga Jelitha, duta Smile Train Indonesia.

 

Anak-anak yang terlahir dengan kondisi celah tidak sempurna akan mengalami kesulitan dalam berbicara, bahkan jika telah melalui rangkaian operasi sekalipun. Smile Train memberdayakan para tenaga ahli medis dalam negeri dengan pelatihan, pendanaan, dan sumber daya untuk memberikan operasi celah gratis dan perawatan celah yang komprehensif untuk anak-anak di seluruh dunia. Smile Train juga menyediakan akses ke berbagai layanan perawatan celah seperti program nutrisi, ortodontik, terapi wicara dan dukungan sosial-emosional.

“Celah bibir dan langit merupakan kondisi dimana terdapat celah diantara rongga mulut dan rongga hidung akibat ketidaksempurnaan proses penyatuan bibir dan lelangit pada masa perkembangan janin. Untuk mengkoreksi celah tersebut, operasi adalah tindakan medis paling utama. Namun begitu, perawatan dan terapi paska operasi juga peru dilakukan agar mampu mencapai tampilan dengan bekas luka minimal dan mengembalikan fungsi anggota tubuh. Salah satunya adalah memperbaiki fungsi bicara dengan rangkaian terapi,” ujar drg. Andi S. Budihardja SpBM(K), dokter spesialis bedah mulut.

 

Terapi wicara sangat disarankan diberikan kepada pasien untuk meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan membangun kepercayaan diri. Terapi dapat dilakukan setidaknya 2 minggu setelah operasi apabila pasien dinyatakan sehat dan mampu mengikuti rangkaian terapi, serta mendapat persetujuan dari dokter terkait.

“Latihan yang diberikan pada setiap pasien akan berbeda, bergantung pada kebutuhan pasien. Namun, pada umumnya terapi wicara dilakukan agar pasien dapat mengembangkan keterampilan artikulasi, mempelajari keterampilan bahasa ekspresif, meningkatkan pengucapan huruf kdan konsonan, serta meningkatkan perbendaharaan kata. Lamanya terapi juga akan disesuaikan dengan kemampuan pasien tersebut,” jelas Rita Rahmawati, S.Pd, SST.TW, M.P.H, terapis wicara.

Pada kesempatan tersebut, Deasy Larasati, Program Director dan Country Manager Smile Train Indonesia menyampaikan, “Smile Train Indonesia yang beroperasi sejak tahun 2002 telah membantu lebih dari 80.000 masyarakat Indonesia mendapatkan perawatan celah komprehensif yang aman, berkualitas dan konsisten. Sangat penting bagi kami, Smile Train memberi anak-anak dan keluarganya akses terhadap layanan berkualitas setiap harinya.”

 

Smile Train memastikan para dokter bedah, ahli anestesi, perawat, ortodontis, terapis wicara, nutrisionis, dan tenaga ahli lainnya yang telah menjadi mitra Smile Train memiliki akses untuk terus mendapatkan pendidikan dan pelatihan dengan tujuan memastikan pasien-pasien Smile Train selalu mendapat perawatan terbaik dan berkualitas.

“Masih banyak masyarakat di berbagai penjuru Indonesia yang belum mendapat perawatan komprehensif untuk celah bibir dan celah langit. Melalui kegiatan yang dinisiasi oleh Smile Train ini, saya berharap akan lebih banyak lagi masyarakat Indonesia dapat menjalani hidup dengan lebih berkualitas,” pungkas Bunga Jelitha.

Trans N Co Indonesia, Qlue, Smile Train, UIN SUKA Yogyakarta, Batik Air, Best Western Hotel, Lion Air Group, Kemenkes RI, Inspirational Video, Motivational Video