Empat Pemimpin Muda Indonesia Turut Kampanyekan Perdamaian Dunia Bersama “The Elders”

38

Jakarta, 25 Oktober 2017 – Empat pemimpin muda asal Indonesia yang tergabung dalam program Future Leaders Connect turut mengampanyekan perdamaian dunia, toleransi dan solidaritas bersama kelompok independen pemimpin dunia “The Elders” dalam kegiatan #WalkTogether di Trafalgar Square London, Inggris, Senin malam (23/10).

Future Leaders Connect adalah program kepemimpinan yang digagas British Council yang memungkinkan empat peserta asal Indonesia; Ayu Kartika Dewi, Dina Novita Sari, Felippa Ann Amanta, Gandrie Ramadhan Apriandito untuk bertemu dengan sejumlah pemimpin dunia dan pemangku kebijakan di Inggris pada 18-26 Oktober 2017.

Dalam salah satu rangkaian acara selama sembilan hari tersebut, British Council bekerja sama dengan The Elders, kelompok pemimpin dunia yang terdiri dari tokoh penting dunia. Organisasi tersebut dibentuk oleh mendiang Nelson Mandela pada Juli 2007 di Johannesburg, Afrika Selatan.

Sejumlah tokoh terkenal dunia yang tergabung dalam The Elders di antaranya adalah mantan Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa Kofi Annan (1997-2006) dan Ban Ki-Moon (2007-2016), mantan Mendikbud Mozambik (1975-1989) Graca Machel, Presiden Chile (2000-2006) Ricardo Lagos, Perdana Menteri perempuan pertama Norwegia Gro Harlem Brundtland, dan mantan Presiden Meksiko (1994-2000) Ernesto Zedillo.

Berbicara di hadapan peserta Future Leaders Connect dan publik sekitar Trafalgar Square, Koffi Annan yang merupakan Ketua The Elders menekankan pentingnya kerja sama dalam mengatasi berbagai permasalahan dunia.

“Hanya aksi kolektif dan kerja sama yang dapat mengatasi berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim hinga proliferasi nuklir, dan hanya solidaritas yang dapat melindungi hak asasi manusia yang fundamental serta kebebasan dari tirani dan ketidakadilan,” kata Annan.

Annan juga secara spesifik menyerukan dialog terhadap masalah ketegangan nuklir di Korea Utara, serta dukungannya terhadap kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok negara P5+1.

Dalam aksi #WalkTogether tersebut, The Elders bersama sekitar 50 pemimpin muda dunia berjalan bersama di pusat kota London untuk kemudian secara simbolis meletakkan lilin di sekitar patung Nelson Mandela.

Setelah menggelar aksi tersebut, The Elders dan British Council menggelar acara publik Church House, Westminster. Acara tersebut mempertemukan The Elders dan para peserta Future Leaders Connect dalam sebuah debat tentang cara untuk menciptakan perdamaian serta menjembatani perbedaan lingkup politik, ekonomi, sosial dan budaya di dunia.

Program Future Leaders Connect bertujuan untuk mengidentifikasi pemuda-pemudi di seluruh dunia yang berpotensi menjadi pembuat kebijakan di masa depan serta berperan dalam penentuan kebijakan global dalam beberapa tahun ke depan. Sebanyak 11.000 – 2 – orang dari 11 negara telah mengajukan aplikasinya tahun ini dan British Council Indonesia telah menyeleksi empat pesesrta dari sekitar 500 aplikasi yang masuk.

Aplikasi untuk turut berpartisipasi dalam program Future Leaders Connect 2018 akan dibuka pada Februari 2018. https://www.britishcouncil.org/future-leaders-connect.

Melalui kegiatan ini British Council berharap dapat mendorong upaya berjejaring para pemimpin muda yang memiliki visi global sekaligus membantu mereka dalam mengatasi tantangan di negaranya masing-masing.

Tentang British Council

British Council adalah organisasi internasional untuk hubungan budaya dan kesempatan pendidikan asal Inggris. Kami menciptakan dialog yang bersahabat antara warga Inggris dengan masyarakat dunia. Dengan menggunakan sumber daya budaya yang dimiliki Inggris kami menghadirkan kontribusi positif di berbagai negara yang menjadi wilayah kerja kami – mengubah kehidupan masyarakat dengan menciptakan kesempatan, membangun jaringan serta menimbulkan rasa percaya. Kami hadir di lebih dari 100 negara di seluruh dunia dan berkarya dalam bidang seni dan budaya, bahasa Inggris, pendidikan dan kemasyarakatan. Setiap tahunnya kami menjangkau lebih dari dua puluh juta orang lewat metode tatap muka dan lebih dari 500 juta orang secara online, siaran radio serta berbagai publikasi.