Bitcoin Sempat Cetak Level Tertinggi 5 Minggu, Lalu Terkoreksi

Bitcoin Sempat Cetak Level Tertinggi 5 Minggu, Lalu Terkoreksi

Harga Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi dalam lima minggu di kisaran US$66.400–US$66.500 pada 21 Juli 2026, sebelum akhirnya terkoreksi ke area US$65.600–US$65.700 pada hari berikutnya. Koreksi ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia, di mana WTI menembus US$85 per barel dan Brent mendekati US$90 per barel, yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

CEO dan Founder platform kripto FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi tersebut merupakan hal wajar di tengah tekanan harga energi dan risiko geopolitik. Menurutnya, peluang penguatan Bitcoin masih terbuka, namun pasar membutuhkan konfirmasi yang lebih kuat dari sisi stabilisasi makroekonomi, meredanya risiko energi, serta keberlanjutan arus dana investasi institusional. Berdasarkan data riset internal FLOQ, level US$66.500 masih menjadi resistance jangka pendek Bitcoin, sementara area US$64.000 menjadi support penting yang perlu dicermati pelaku pasar.

Read More

Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Sorotan

Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran disebut menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak belakangan ini. Selama tekanan geopolitik dan risiko pasokan energi belum mereda, harga minyak diperkirakan tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. Pelaku pasar juga menanti hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28–29 Juli 2026. Meski suku bunga diperkirakan tetap ditahan, peluang kenaikan suku bunga pada September dinilai meningkat seiring lonjakan harga energi.

Arus Dana ETF dan Regulasi Beri Sinyal Positif

Di tengah tekanan faktor makro, arus dana ETF Bitcoin spot mencatatkan inflow pertama sejak April, sementara ETF Ethereum juga mencatat inflow bersih pada pekan 13–17 Juli setelah delapan minggu berturut-turut mengalami outflow. Yudho mengingatkan agar pemulihan ini dibaca secara hati-hati, mengingat outflow sepanjang tahun berjalan masih sekitar US$5,2 miliar, sehingga inflow terbaru lebih tepat dilihat sebagai pemulihan parsial ketimbang pembalikan tren besar. Dari sisi regulasi, perkembangan RUU CLARITY Act di Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar setelah hambatan terkait ketentuan etika berhasil dilewati, meski peluang pengesahannya masih perlu dikawal secara realistis.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 21–22 Juli 2026. Rupiah juga menguat tipis ke kisaran Rp17.909–Rp17.917 per dolar AS, sementara IHSG melanjutkan penguatan ke level 6.374. Yudho mengimbau investor tetap mencermati tekanan eksternal yang dapat memengaruhi aset berisiko seperti kripto, serta mengedepankan riset mandiri dan manajemen risiko yang disiplin dalam mengambil keputusan investasi, alih-alih mengikuti sentimen jangka pendek semata.

Sumber: Siaran pers FLOQ.

Leave a Reply