
PT Bank Mandiri Taspen menggandeng tiga perusahaan BUMN lain, yaitu PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Pegadaian, dan PT PELNI, untuk menjalankan rangkaian program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) secara terintegrasi di Banda Neira, Maluku Tengah. Program ini menyasar empat bidang sekaligus: lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Ambon, Felix Trivili Ayanda, menyebut kolaborasi ini dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat. Menurutnya, kepedulian perusahaan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup warga setempat.
Baca juga:
Penanaman Pala hingga Bank Sampah
Rangkaian kegiatan dimulai pada 4 September 2026 dengan penanaman 500 bibit pohon pala di kawasan Benteng Belgica, melibatkan warga dan mahasiswa setempat. Pala dipilih karena punya keterkaitan historis dan ekonomi yang kuat dengan Kepulauan Banda. Program lingkungan juga mencakup edukasi pemilahan sampah, penyediaan sarana pemilahan, bantuan dua unit biodigester untuk sampah organik, serta penguatan pengelolaan Bank Sampah setempat.
Di sisi kesehatan, program ini menjangkau 100 warga lanjut usia melalui pemeriksaan mata gratis, dengan bantuan kacamata bagi yang membutuhkan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Ruang Belajar untuk Anak-anak
Di bidang pendidikan, keempat BUMN mendirikan Ruang Belajar Banda Neira yang dilengkapi akses internet, laptop, alat tulis, tas sekolah, paket gizi, serta pendampingan belajar gratis bagi anak-anak. Secara keseluruhan, rangkaian program TJSL ini diperkirakan memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung kepada sekitar 200 warga Banda Neira.
Catatan Redaksi. TJSL atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah bentuk kewajiban perusahaan, termasuk BUMN, untuk memberi manfaat balik ke masyarakat dan lingkungan sekitar wilayah operasinya, biasanya berupa program pendidikan, kesehatan, atau lingkungan seperti yang dijalankan di sini. Pemilihan pala bukan tanpa alasan, sebab Kepulauan Banda dahulu menjadi pusat perdagangan pala dunia yang bahkan memicu perebutan kekuasaan kolonial Eropa, sehingga penanaman kembali pohon ini juga menyentuh sisi pelestarian identitas ekonomi dan sejarah lokal.
Sumber: PT Bank Mandiri Taspen.





