
Malang, 1 Mei 2026 — Unit alternative rock/power pop asal Malang, Peni, akhirnya merilis perjalanan musik mereka selama satu tahun ini dalam sebuah album berjudul 30. Berisikan sepuluh lagu yang rilis via label Haum Entertainment. Rilisan ini menjadi ungkapan terjujur Peni dari gejolak perasaan, keresahan pribadi terdalam hingga refleksi sosial yang selama ini mereka rasakan sejak kemunculannya di skena independen pada Januari 2025.
Peni sendiri merupakan band dengan formasi Ken baruna (gitar vokal), Gilang Domisilafa (gitar), Ardian Bagus “aka” Susu (bass), Aldian Ibanez “aka” Dibot (drum). Dalam pendekatan musikalnya, Peni banyak mengambil pengaruh dari spektrum power pop dan alternative rock 90-an Amerika Serikat. Tapi belakangan, mereka kembali ke akar mereka di pop 90-2000an Indonesia.
“Awal terbentuk Peni sangat terpengaruh band power pop amerika. Tapi selama proses pengerjaan, kami malah merasa aman dan nyaman dengan gaya lagu karya Ariel “NOAH”, Eross Candra, Pongki Barata,” kuak Gilang.
Hanya dalam waktu setahun Peni menunjukkan produktivitas tinggi dengan merilis beberapa single seperti “Allegori”, “Gejolak Asmara Masa Muda”, dan “Kota”, yang masing-masing menawarkan sudut pandang berbeda tentang pengalaman personal, mulai dari puisi yang dialihwahanakan menjadi lagu, romansa obsesif masa muda, hingga rasa terasing dalam kehidupan urban.
“Album 30 merangkum hal-hal personal yang pernah terjadi selama menjelang usia 30, tentang kemarahan, kesedihan, kesepian, dan lain-lain. Bisa dianggap album ini sebagai buku diaryku,” ujar Ken
“Bahkan kehadiran Randy Levin Virgiawan alias Kempel ini karena aku rasa, puisinya bisa menyentuh sisi personalku juga. Karena aku persilahkan masuk ke dalam ruang yang dibentuk Peni, “ tambah Ken
Rilisan penuh ini dibuka dengan “Allegori”, sebuah lagu yang berangkat dari puisi karya Randy Levin Virgiawan dan menjadi titik awal eksplorasi lirik Peni yang puitis yang terkadang sekaligus bitter. Lagu-lagu berikutnya seperti “Jakarta” dan “Sama” menangkap kegelisahan terhadap dinamika sosial yang absurd serta sentralisme yang begitu mengepung. Sementara “30” dan “Tidur” menyelami ruang refleksi yang lebih personal yaitu tentang penyesalan, kelelahan, dan tekanan hidup yang siap antri untuk mencekik.
“Apalagi semua lagu saya tulis sepanjang tahun 2025. Contoh personal, seperti track “30” dan “Tentang Kepergian” yang saya banget. Di mana, Track “30” dan “Tentang Kepergian” adalah tentang menyampaikan perasaan yang menjadi suatu hal yang menakutkan. Maka, menuangkannya dalam lagu adalah hal yang nyaman. Setidaknya itulah pandanganku,” jelas Ken
Rilisan penuh ini dibuka dengan “Allegori”, lagu yang berangkat dari puisi karya Randy Levin Virgiawan dan menjadi titik awal eksplorasi lirik Peni yang puitis sekaligus getir; berlanjut ke “Jakarta” dan “Sama” yang menangkap kegelisahan terhadap dinamika sosial yang absurd serta kepungan sentralisme, lalu “30” dan “Tidur” yang menyelami refleksi personal tentang penyesalan, kelelahan, dan tekanan hidup. Di sisi lain, Peni tetap menghadirkan sentuhan pop melalui “Gejolak Asmara Masa Muda” dan “Pesta” yang mengangkat relasi, kecanggungan pergaulan, serta kenangan masa muda, sementara “Kota” menjadi titik penting dengan menggambarkan patah hati akibat kompleksitas hidup urban. Menutup keseluruhan rilisan, “Tentang Kepergian” hadir sebagai nomor paling intim—sebuah elegi tentang kehilangan, ingatan, dan upaya merawat kehadiran dalam ketiadaan, dengan pendekatan minimal dan akustik sebagai penyeimbang emosional narasi album.
“Bahkan saking personalnya, urutan lagu di album ini senyamannya saja, tak ada konsep tertentu,” jelas Ken
Seluruh materi dalam rilisan ini diproduseri oleh Ken Baruna, direkam di Rama Studio, serta melalui proses mixing dan mastering oleh Rama Satria M. Secara keseluruhan, rilisan ini tidak hanya menjadi kompilasi lagu, tetapi juga arsip emosional dari fase awal Peni sebagai band yaitu sebuah potret tentang bagaimana individu menghadapi dunia yang bising, hubungan interpersonal yang rapuh, dan waktu yang terus berjalan.
“Peni selalu ingin terdengar sebagai band pop, meskipun musiknya agak kotor. Maka dengan memilih Mas Rama sebagai orang di balik mixing dan mastering album kami adalah hal yang kami rasa tepat,” ujar Ken
Dengan rilisan ini, Peni menegaskan posisinya sebagai salah satu unit muda dari Malang yang patut diperhitungkan tidak hanya karena produktivitasnya, tetapi juga karena keberanian mereka dalam menyajikan kejujuran lirik dengan pendekatan musikal yang akrab sekaligus tetap relevan.
“Intinya, album 30 ini hanya berisi catatan keresahan dan minim motivasi yang heroik. Album ini kami lepas memang bukan untuk mendorong kemajuan peradaban masa kini. Album ini kami lepas untuk orang orang yang merasa dan mengalami peristiwa yang serupa, dan menjadi teman saat pendengar merasa sendirian. Harapan tidak pernah benar benar putus, ia hanya sembunyi karena takut penilaian diri sendiri dan juga orang lain,” jelas Ken
Untuk rencana selanjutnya setelah album ini rilis, band ini mengaku tidak ada agenda terdekat untuk aktivasi. Bahkan kembali menjalani kehidupan dan bekerja serta lanjut kembali ke studio untuk album ke-2.
“Setelah album 30 ini rilis, kami bahkan tidak terpikir rencana dekat apa-apa. Tetap bekerja untuk hidup dan lanjut bikin album ke-2 wkwkk,” tutup Ken
Dengarkan dan beli versi digital album ini melalui Bandcamp Haum Entertainment.-Haum-

PRE-SAVE DSP: https://bfan.link/peni-30





