
Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 5 mencatat penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar dari industri tembakau yang dikelolanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sepanjang satu siklus produksi yang berjalan dari November hingga November tahun berikutnya, aktivitas usaha perusahaan disebut memberi manfaat ekonomi luas bagi masyarakat sekitar.
Menurut perusahaan, kebutuhan tenaga kerja meningkat bertahap sesuai tahapan budi daya. Pada fase pengolahan tanah, setiap area tanam rata-rata mempekerjakan lebih dari 50 orang per hari, didominasi pekerja laki-laki. Sementara pada fase penanaman, pemeliharaan, panen, dan pengeringan, pekerja perempuan lebih banyak dilibatkan karena pekerjaan tersebut menuntut ketelitian tinggi.
Puncak Penyerapan di Musim Olah
Penyerapan tenaga kerja mencapai puncaknya saat proses pengolahan tembakau berlangsung, yakni pada Juli hingga November. Pada periode ini, operasional pabrik disebut mampu menyerap sekitar 15.000 hingga 20.000 pekerja, menjadikannya salah satu penyerap tenaga kerja musiman terbesar di Jember dan sekitarnya.
Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, mengatakan pertumbuhan bisnis perusahaan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut industri tembakau yang dikelola PTPN I telah menjadi sumber penghidupan bagi puluhan ribu pekerja sekaligus menggerakkan ekonomi daerah, mulai dari proses budi daya hingga pengolahan di pabrik.
Ia menambahkan, tingginya penyerapan tenaga kerja ini merupakan wujud penerapan prinsip Creating Shared Value, di mana kinerja bisnis perusahaan diupayakan berjalan beriringan dengan manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selain lapangan kerja langsung, keberadaan Kebun dan Pabrik Pengolahan Tembakau Ajong juga disebut mendorong pertumbuhan sektor transportasi, perdagangan, logistik, jasa, usaha mikro, hingga kuliner di kawasan operasional.
Catatan Redaksi. Creating Shared Value adalah konsep bisnis yang menautkan strategi perusahaan dengan pemecahan masalah sosial di sekitarnya, bukan sekadar donasi atau CSR terpisah dari kegiatan usaha. Lonjakan tenaga kerja pada Juli sampai November sejalan dengan sifat tembakau sebagai komoditas musiman, karena panen dan pengolahan daun harus dikerjakan cepat dalam rentang waktu terbatas sebelum kualitasnya menurun, sehingga kebutuhan pekerja melonjak tajam dibanding masa tanam.
Sumber: PTPN I.





