Investor Pasar Modal RI Tembus 30 Juta, Literasi Baru 17 Persen

Investor Pasar Modal RI Tembus 30 Juta, Literasi Baru 17 Persen
Ilustrasi (AI)

Jumlah pemilik rekening efek di pasar modal Indonesia melonjak signifikan sepanjang tahun ini. Bursa Efek Indonesia mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 30.274.265 per 7 Agustus 2026, naik 48,78 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Sekitar 54 persen dari investor tersebut berusia di bawah 30 tahun.

Kesenjangan Literasi yang Melebar

Pertumbuhan jumlah investor ini ternyata tidak diiringi pemahaman yang setara. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang disusun OJK bersama BPS dan LPS mencatat indeks inklusi keuangan nasional sudah 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan baru 69,57 persen. Khusus untuk pasar modal, kesenjangannya jauh lebih tajam: indeks literasinya hanya 17,78 persen menurut SNLIK 2025, artinya tidak sampai dua dari sepuluh orang benar-benar memahami produk investasi yang mereka miliki.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Kesenjangan ini berdampak nyata pada kerugian masyarakat. Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) mencatat kerugian akibat investasi ilegal mencapai Rp142,22 triliun sepanjang 2017 hingga kuartal III 2025. Indonesia Anti-Scam Centre juga menerima 515.345 laporan penipuan sejak 22 November 2024 hingga 31 Maret 2026.

Tiga Hal Sebelum Menempatkan Dana

Dr. Dhiraj Kelly, praktisi keuangan yang aktif dalam edukasi manajemen risiko, menilai kerugian investor pemula lebih sering muncul dari proses yang terlewat ketimbang instrumen yang salah pilih. Ia menyoroti tiga hal utama: kejelasan tujuan dan jangka waktu dana, batas toleransi terhadap penurunan nilai investasi, serta kepastian bahwa dana yang digunakan benar-benar menganggur dan bukan dana kebutuhan atau hasil pinjaman. Menurutnya, konten edukasi finansial di media sosial cenderung timpang karena lebih banyak membahas potensi cuan ketimbang risiko seperti volatilitas dan tekanan emosional saat posisi merugi.

Perhatiannya pada manajemen risiko lahir dari pengalaman pribadinya menanggung kerugian besar di pasar keuangan sebelum menata ulang caranya berinvestasi. Prinsip itu kini menjadi dasar RiskWise Community, komunitas edukasi yang ia kembangkan dengan fokus pada pengenalan profil risiko, pengelolaan modal, pengendalian potensi kerugian, serta pembedaan antara investasi dan spekulasi. Ia menegaskan seluruh materi yang dipublikasikan bersifat edukatif, bukan rekomendasi jual-beli instrumen tertentu, mengingat investasi selalu mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Sumber: Dhiraj Kelly Academy.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan