
Harga Bitcoin (BTC) berada di ambang penurunan bulanan kedua secara beruntun pada Oktober 2026, setelah terkoreksi sekitar 4,10% sejak awal bulan. Meski begitu, lembaga riset aset digital FLOQ menyebut sejumlah indikator teknikal, perilaku investor, dan kondisi makroekonomi masih menyisakan harapan bagi prospek jangka panjang Bitcoin.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan koreksi harga tidak serta-merta menandai akhir tren jangka panjang, namun investor juga belum bisa memastikan harga sudah menyentuh titik terendah. Menurutnya, yang perlu dicermati adalah apakah tekanan jual mulai mereda dan Bitcoin mampu bertahan di level harga penting.
Empat Sinyal yang Jadi Perhatian
Secara teknikal, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$79.935, atau sekitar 5% di atas rata-rata pergerakan harga 50 minggu. Dari sisi institusional, posisi net long manajer aset di kontrak berjangka CME turun sekitar 57% dari masa rekor harga tertinggi, namun ETF Bitcoin spot AS justru menambah sekitar 87.000 BTC sejak titik terendah Juni 2026.
Data on-chain dari Glassnode mencatat sekitar 70% suplai Bitcoin milik pemegang jangka pendek masih untung, sementara Santiment melaporkan jumlah dompet nonkosong berkurang sekitar 30.000 sejak 16 Oktober, indikasi minat ritel yang mulai melunak. Di sisi makro, utang pemerintah federal AS yang mencapai US$40,44 triliun pada 20 Oktober 2026 turut menjadi faktor yang berpotensi memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset bersuplai terbatas dalam jangka panjang.
November Jadi Penentu
Secara historis, Bitcoin mencatat kenaikan pada sekitar 63% bulan November sejak 2010, dengan median kenaikan 10,26%. Namun pola itu tidak selalu berulang setelah Oktober negatif — dari lima tahun terakhir dengan Oktober merah, harga hanya naik pada dua November berikutnya. Santiment menilai penurunan berkelanjutan di bawah US$79.000 bisa menunda konfirmasi dasar harga, sementara kenaikan di atas US$82.500 akan memperkuat sinyal pemulihan.
Sumber: FLOQ.





