
Harga Bitcoin (BTC) menghadapi tekanan berat menjelang penutupan Oktober 2026. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini berjuang mempertahankan level psikologis US$80.000, di tengah sentimen pasar yang dibayangi keputusan suku bunga Federal Reserve, data inflasi AS, serta laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi.
Mengutip laporan Cointelegraph, Bitcoin berisiko menutup Oktober dengan koreksi sekitar 4% jika harga tetap bertahan di kisaran US$80.000 hingga akhir bulan. Kondisi ini bertolak belakang dengan kebiasaan historis Oktober yang kerap disebut ‘Uptober’ karena cenderung mencatat kenaikan harga Bitcoin. Pada akhir pekan lalu, harga BTC bahkan sempat anjlok ke US$79.145, memicu likuidasi posisi long senilai hampir US$150 juta hanya dalam dua jam.
Baca juga:
Level US$80.000 Jadi Penentu Arah
Data CoinGlass menunjukkan adanya kumpulan order beli di kisaran US$79.300 senilai sekitar US$73 juta, sementara order jual terkonsentrasi di sekitar US$81.000. Secara historis, Bitcoin rata-rata naik 26,1% sepanjang Oktober sejak 2010, namun pola berbeda terjadi pada Oktober 2025 dan 2026. Analis Benjamin Cowen dari Into the Cryptoverse menilai kenaikan BTC ke US$87.000 pada akhir September-awal Oktober belum cukup meyakinkan sebagai tanda pemulihan, mengingat area tersebut berdekatan dengan harga pembukaan tahunan Bitcoin di US$87.490.
The Fed dan Data Ekonomi Jadi Katalis
Perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung Rabu, 28 Oktober 2026. Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,75%-4% dengan probabilitas lebih dari 90%, namun investor tetap mencermati sinyal kebijakan ke depan, termasuk kemungkinan kenaikan 0,25 poin persentase pada Desember. Lonjakan harga minyak Brent yang sempat menembus US$117 per barel turut menambah tekanan inflasi yang bisa mempersulit langkah pelonggaran The Fed. Data indeks PCE pada Kamis, 29 Oktober 2026, juga akan menjadi sorotan karena berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga.
Di sisi lain, laporan keuangan kuartal III dari Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Intel yang dijadwalkan terbit pekan ini turut memengaruhi sentimen pasar aset berisiko. Sekitar 20% emiten dalam indeks S&P 500 akan merilis kinerja keuangan pada periode yang sama, dan investor akan menilai apakah pertumbuhan pendapatan sektor teknologi mampu mengimbangi besarnya belanja modal untuk infrastruktur AI dan pusat data.
Sumber: Nanovest.





