
Harga Bitcoin (BTC) masih bertahan di kisaran US$77.000–US$78.000 pada perdagangan Kamis (3/9), belum mampu menembus level resistance US$78.000 yang dianggap krusial oleh analis teknikal. Di tengah pergerakan yang terbatas ini, perhatian pasar justru tertuju pada perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi harga energi, ekspektasi suku bunga, dan minat investor terhadap aset berisiko.
CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pergerakan Bitcoin saat ini tidak bisa dibaca hanya lewat indikator teknikal. Menurutnya, perubahan persepsi risiko global akibat dinamika geopolitik menjadi faktor yang tak kalah penting. “Jika tensi geopolitik mereda, tekanan terhadap harga energi ikut berkurang dan sentimen risk-on kembali, Bitcoin berpotensi menjadi salah satu aset yang menerima aliran modal lebih cepat,” ujarnya.
Sinyal Deeskalasi dari Trump
Spekulasi soal meredanya konflik meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa gelombang serangan terbaru terhadap Iran kemungkinan tak berlangsung lama, bahkan disebut telah membahas kemungkinan menyatakan konflik berakhir meski belum ada keputusan final. Namun di lapangan, AS dan Iran sempat kembali bertukar serangan pada awal September usai periode yang relatif tenang, membuat pasar tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru.
Harga Minyak Jadi Penentu
Yudho menyoroti harga minyak sebagai indikator penting untuk membaca dampak konflik terhadap pasar kripto. Brent sempat turun ke sekitar US$95,2 per barel dan WTI ke US$90,77 per barel setelah komentar Trump soal potensi serangan yang singkat. Penurunan harga minyak yang konsisten, menurutnya, dapat meredakan kekhawatiran inflasi dan memberi ruang bagi bank sentral, khususnya The Fed, untuk lebih fleksibel dalam kebijakan moneter — kondisi yang secara historis kondusif bagi aset berisiko seperti kripto.
Meski begitu, Yudho mengingatkan bahwa target US$100.000 baru sebatas skenario, bukan kepastian. “Deeskalasi geopolitik bisa menjadi katalis positif, tetapi pasar tetap membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga, likuiditas, kondisi makro, serta sentimen investor. Dalam situasi volatil seperti sekarang, manajemen risiko tetap menjadi hal yang utama,” tutupnya.
Sumber: FLOQ.





