
J.P. Morgan Indonesia memaparkan pandangannya terhadap prospek ekonomi dan pasar saham Indonesia dalam media briefing yang digelar di Jakarta pada 3 September 2026. Paparan ini merupakan kelanjutan dari J.P. Morgan Investment Forum yang berlangsung sehari sebelumnya, mempertemukan investor kelembagaan global, pembuat kebijakan, dan pelaku usaha untuk membahas arah pertumbuhan Indonesia.
Chief Executive Officer J.P. Morgan Indonesia, Gioshia Ralie, menyoroti Rancangan APBN 2027 yang bersifat ekspansif namun tetap menjaga kehati-hatian fiskal. Target defisit anggaran dipatok lebih rendah, yakni 2,4% dari sebelumnya 2,85% pada 2026. Menurutnya, sikap fiskal yang lebih konservatif ini berpotensi meredam gejolak pasar saham dan nilai tukar rupiah, meski tantangan berupa penurunan rasio penerimaan negara terhadap PDB dan kenaikan beban bunga tetap perlu diwaspadai.
Baca juga:
Investasi Swasta dan Pusat Data Jadi Andalan
Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, menekankan bahwa pertumbuhan jangka menengah Indonesia akan makin bergantung pada investasi sektor swasta, mengingat sumber daya fiskal negara dialokasikan ke berbagai prioritas. Efisiensi belanja, penanaman modal asing, serta reformasi regulasi dinilai sebagai jalur penting untuk menarik modal swasta, dengan investasi BUMN dan Danantara diharapkan melengkapi belanja pemerintah pusat.
Salah satu sorotan utama adalah pesatnya pembangunan pusat data di Indonesia seiring merambahnya siklus investasi kecerdasan buatan (AI) secara global. J.P. Morgan memperkirakan kapasitas pusat data domestik bisa melonjak tiga kali lipat, dari sekitar 500 MW saat ini menjadi sekitar 1,8 GW pada akhir 2027, dengan total rencana kapasitas jangka panjang yang telah diumumkan berbagai perusahaan mencapai sekitar 6 GW.
Pasar Saham Masih Berhati-hati
Dari sisi pasar modal, laba emiten Indonesia tercatat tumbuh sekitar 6% secara tahunan pada semester I-2026, meski konsensus pasar memperkirakan momentumnya melambat pada semester kedua akibat suku bunga global yang lebih tinggi. Proyeksi laba MSCI Indonesia bahkan diperkirakan turun 0,9% pada 2026 sebelum melonjak 8,7% pada 2027. Eksposur investor asing yang sudah berada di level rendah, ditambah likuiditas domestik yang kuat dan valuasi saham yang relatif murah, dinilai dapat menahan tekanan jual lebih lanjut di pasar.
Sumber: J.P. Morgan Indonesia.





