
Pemerintah meresmikan pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Bogor, Kamis (17/9). Peresmian dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebagai bagian dari percepatan penanganan darurat sampah nasional melalui fasilitas Waste-to-Energy (WtE).
Zulkifli Hasan menyebut proyek ini sebagai yang pertama di Indonesia yang dirancang untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus: sampah baru yang terus datang setiap hari maupun tumpukan sampah lama yang sudah bertahun-tahun menumpuk di lingkungan masyarakat.
Kapasitas dan Target Operasi
PSEL Bogor Raya 1 dirancang mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari dari Kabupaten dan Kota Bogor, dengan output listrik diperkirakan 20-30 MW. Masa konstruksi diperkirakan berlangsung dua tahun, dengan target beroperasi pada akhir 2027.
Chief Investment Officer PT Danantara Investment Management, Pandu Patria Sjahrir, menjelaskan proyek ini telah melalui sejumlah tahapan sejak awal 2026, mulai dari penandatanganan Joint Venture Agreement pada Maret, Perjanjian Kerja Sama pada April, penetapan sebagai Proyek Strategis Nasional pada Mei, hingga kini memasuki tahap penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik. Proyek Bogor Raya ini melanjutkan langkah serupa yang lebih dulu dijalankan di Kota Bekasi dan Denpasar Raya.
Dalam tahap persiapan, PT SUCOFINDO (Persero) berperan melakukan Waste Analysis & Characterization (WAC) dan Land Investigation untuk memetakan karakteristik sampah dan kesiapan lokasi. Direktur Utama SUCOFINDO, Sandry Pasambuna, menjelaskan bahwa data seperti nilai kalor, kadar air, dan kandungan logam pada sampah menjadi dasar perancangan agar fasilitas beroperasi optimal. Ia menambahkan, SUCOFINDO telah melakukan pengujian serupa di tujuh lokasi pengembangan PSEL lain, yakni Bali, Bekasi, Medan, Tangerang, Yogyakarta, Semarang, dan Bogor.
Catatan Redaksi. Nilai kalor menunjukkan seberapa besar energi yang bisa dihasilkan saat sampah dibakar, sedangkan kadar air memengaruhi efisiensi pembakaran karena air dalam sampah perlu menguap dulu sebelum panas bisa dimanfaatkan. Kandungan logam diperiksa karena residu logam berlebih bisa merusak tungku dan mencemari abu sisa proses. Ketiga data ini menjadi dasar menentukan ukuran tungku dan sistem pengendalian emisi fasilitas Waste-to-Energy agar listrik yang dihasilkan optimal.
Sumber: PT SUCOFINDO (Persero).





