
Di tengah musim kemarau, petani di kawasan Subak Sembung, Denpasar Utara, Bali, kini punya cara baru menjaga pasokan air sawah. Melalui Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA), teknologi mikrohidro dipadukan dengan panel surya untuk mengoptimalkan pengairan sekaligus menekan biaya operasional pertanian.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Uma Palak Lestari, Wayan Sukadana, mengatakan sensor kelembaban tanah yang ditenagai mikrohidro membantu petani mengetahui lahan mana yang benar-benar membutuhkan air. Dengan begitu, penggunaan air menjadi lebih tepat sasaran dan tidak terbuang sia-sia di lahan seluas 10,26 hektar.
Baca juga:
- ASCOPE ke-51 di Bali: Pertamina Perkuat Kerja Sama Energi ASEAN
- Pupuk GeO-Fert Pertamina Bantu Petani Kamojang Panen 70 Ton Kubis
Dari Traktor Diesel ke Listrik
Perubahan juga terlihat pada alat pertanian. Traktor diesel yang dulu diandalkan kini mulai digantikan traktor listrik berbaterai yang diisi ulang dari energi surya dan mikrohidro, sehingga petani bisa mengisi daya secara mandiri tanpa biaya listrik tambahan. Pertamina juga menyerahkan mesin giling padi elektrik berkapasitas 200 kilogram per jam untuk memperkuat proses pascapanen.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Desa Energi Berdikari (DEB) yang dikembangkan Pertamina di berbagai wilayah Indonesia. Saat ini sudah ada 310 titik DEB secara nasional, dengan 62 desa telah mencapai tahap mandiri setelah pendampingan selama tiga hingga lima tahun.
Menarik Perhatian Delegasi ASCOPE
Keberhasilan memadukan energi bersih, produktivitas pertanian, dan pemberdayaan ekonomi ini turut menarik perhatian delegasi ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) yang berkunjung ke kawasan tersebut. Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyebut delegasi dari Timor Leste bahkan secara khusus menanyakan konsep dan potensi pendapatan petani untuk dipelajari dan direplikasi.
Saat ini aktivitas pertanian di Subak Sembung dikelola oleh 185 petani dan berdampak langsung pada lebih dari 400 warga sekitar, dengan pendapatan kelompok tani mencapai lebih dari Rp585 juta per tahun. Kawasan ini juga mulai berkembang menjadi destinasi wisata dengan jalur joging sepanjang 2,4 kilometer dan 43 titik lampu penerangan otomatis bertenaga SIUMA.
Catatan Redaksi. Mikrohidro adalah pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan aliran air irigasi atau sungai untuk memutar turbin, sehingga bisa dipasang di saluran sawah tanpa bendungan besar seperti pembangkit hidro konvensional. Dipadukan dengan panel surya, listrik yang dihasilkan menghidupkan sensor kelembaban tanah yang membaca kadar air di lahan secara otomatis, sehingga petani tahu petak mana yang perlu diairi tanpa harus mengecek manual satu per satu. Pola kombinasi energi terbarukan dengan praktik pertanian seperti ini yang membuat konsep Desa Energi Berdikari dipelajari untuk diterapkan di tempat lain.
Sumber: PT Pertamina (Persero).





