Pupuk GeO-Fert Pertamina Bantu Petani Kamojang Panen 70 Ton Kubis

Pupuk GeO-Fert Pertamina Bantu Petani Kamojang Panen 70 Ton Kubis

Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, berhasil memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan seluas 1,2 hektare. Hasil panen ini merupakan buah dari penerapan GeO-Fert, pupuk organik inovasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang yang memanfaatkan ekses uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang.

Uap panas bumi bersuhu sekitar 60-70 derajat Celsius digunakan untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik, dari semula membutuhkan waktu hingga 14 hari menjadi hanya sekitar 12 jam. Dalam budidaya kali ini, sekitar 30 ton pupuk GeO-Fert diaplikasikan ke lahan, dengan pupuk padat diberikan sebelum masa tanam dan pupuk cair disemprotkan setiap 15 hari.

Bacaan Lainnya

Hasilnya, kubis yang dipanen memiliki ukuran lebih besar dari rata-rata, dengan beberapa buah mencapai bobot sekitar 6 kilogram dibandingkan kubis lokal yang umumnya berkisar 3 kilogram. Panen tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta, sementara penggunaan GeO-Fert menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.

Bagian dari Program Beyond Electricity

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyebut inovasi ini sebagai salah satu wujud pemanfaatan panas bumi di luar pembangkit listrik, atau yang disebut program Beyond Electricity. Panen kubis ini merupakan rangkaian kegiatan HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert) yang digelar sepanjang September 2026.

GeO-Fert sebelumnya juga diterapkan pada budidaya kentang di Kamojang pada April 2026, dengan hasil panen mencapai 7.581 kilogram dari lahan 4.200 meter persegi, naik dari sekitar 4.525 kilogram menggunakan metode konvensional. Pupuk ini kini juga dipakai untuk komoditas lain seperti cabai, tomat, dan labu siam, sebagai bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang juga dilengkapi panel surya dan baterai penyimpanan.

Catatan Redaksi. Pengeringan pupuk organik biasanya mengandalkan panas matahari atau mesin pemanas berbahan bakar, yang memakan waktu lama dan biaya energi tambahan. Dengan memanfaatkan uap sisa dari pembangkit panas bumi yang suhunya sudah cukup tinggi, proses itu bisa dipercepat drastis tanpa menambah konsumsi energi dari luar. Istilah Beyond Electricity sendiri merujuk pada strategi pemanfaatan panas bumi untuk keperluan non-listrik, seperti pengeringan hasil pertanian, pengolahan pangan, atau pemanasan langsung, selain fungsi utamanya menghasilkan listrik.

Sumber: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan