
Tren pembuatan konten promosi di media sosial mulai bergeser. Jika sebelumnya banyak brand mengandalkan video iklan yang digarap rapi dan mahal, kini konten sederhana buatan pelanggan sendiri atau user-generated content (UGC) justru lebih banyak menarik perhatian audiens.
Kenapa Algoritma Lebih Menyukai UGC
UGC adalah konten yang dibuat oleh pelanggan atau pengguna biasa, bukan tim marketing brand, misalnya video ulasan produk, konten “bongkar paket”, atau testimoni yang direkam apa adanya. Konten semacam ini dinilai lebih jujur sehingga penonton cenderung menyaksikannya sampai selesai, salah satu faktor yang jadi pertimbangan utama algoritma platform.
Riset Emplifi yang dikutip dalam rilis ini menyebutkan 47 persen praktisi pemasaran kini lebih mengutamakan konten bergaya UGC dibanding iklan video yang terlalu dipoles. Sebanyak 73 persen lainnya juga lebih fokus pada format video pendek seperti Reels dan TikTok ketimbang video panjang.
Faktor Pendukung Distribusi
Ada tiga alasan utama mengapa konten bergaya UGC lebih diuntungkan algoritma: tingkat penyelesaian tonton yang lebih tinggi, sinyal keaslian yang sulit direplikasi oleh konten yang terasa dirancang, serta distribusi yang lebih luas untuk video native dibanding video berwatermark platform lain.
Meski dianggap lebih otentik, UGC tetap punya kelemahan: konten butuh audiens awal yang cukup agar bisa dilihat dan direspons secara berarti. Azalea, Content Marketing Specialist dari ProviderSMM.id, mengatakan banyak brand keliru mengira UGC akan otomatis berjalan begitu diunggah, padahal fondasi audiens dan keaslian konten adalah dua hal berbeda yang perlu berjalan beriringan.
Tips Memanfaatkan Tren Secara Sehat
Bisnis disarankan mendorong pelanggan membuat testimoni secara natural tanpa arahan berlebihan, membangun fondasi audiens lebih dulu baik lewat strategi organik maupun layanan pendukung, menjaga proporsi antara dukungan eksternal dan substansi konten, serta tetap konsisten memposting karena UGC melengkapi strategi jangka panjang, bukan menggantikannya sepenuhnya.
Catatan Redaksi. Artikel ini bersumber dari siaran pers PT BisnisOn Digital Solutions, pengelola ProviderSMM.id, yang di industri media sosial dikenal sebagai SMM panel, penyedia jasa penambah pengikut dan interaksi, layanan yang disinggung sebagai ‘fondasi audiens’ dalam tips di atas. Algoritma platform seperti TikTok dan Instagram sendiri memakai completion rate, yakni persentase penonton yang menonton video hingga tuntas, sebagai salah satu sinyal utama untuk memperluas jangkauan sebuah unggahan.
Sumber: PT BisnisOn Digital Solutions (ProviderSMM.id).





