
Aplikasi media sosial Sanct resmi meluncur di Indonesia pada Rabu (30/9) dan bisa diunduh gratis melalui App Store. Peluncuran ini menyusul Singapura yang lebih dulu kebagian akses pada Senin (28/9), sekaligus menjadikan Indonesia dan Malaysia meluncur bersamaan di hari yang sama. Sanct didirikan oleh Sion Abednego, seorang founder asal Indonesia.
Harus Mengajak Lima Orang Dulu
Berbeda dari kebanyakan sosial media yang mendorong pengguna mengumpulkan sebanyak mungkin koneksi, Sanct justru meminta pengguna baru mengajak lima orang terdekatnya lebih dulu. Selama kelima orang itu belum bergabung, sejumlah fitur seperti pencarian teman, saran pertemanan, Memoji, dan menu Verse masih tertutup. Fitur-fitur tersebut baru terbuka setelah orang kelima berhasil diajak masuk.
Baca juga:
“Sanct tidak meminta kamu mengumpulkan banyak orang. Sanct meminta lima orang yang benar-benar mengenalmu,” kata Sion Abednego, pendiri Sanct. Lima orang tersebut dapat ditambahkan lewat pemindaian kode QR saat bertemu langsung, kode undangan, atau perkenalan dari teman yang sudah memakai aplikasi. Setelah lingkaran lima orang terbentuk, pencarian dan saran pertemanan pun dibatasi hanya menjangkau teman dari teman, sehingga jaringan tiap pengguna tetap berisi orang-orang yang benar-benar mereka kenal.
Fitur dan Privasi
Di dalam aplikasi, pengguna dapat membagikan foto, video, catatan, polling, check-in lokasi, hingga lagu yang sedang didengarkan kepada lingkaran terdekatnya, dengan pengaturan privasi per unggahan. Ada pula fitur obrolan grup lengkap dengan panggilan suara dan video, serta ruang bernama Sanctum yang dibuka setiap hari pukul 18.00. Pengguna juga ditemani asisten bernama Sancty yang dapat memberi pengingat rutinitas secara opsional. Sanct mengklaim tidak menampilkan iklan, tidak memiliki linimasa publik, dan tidak menjual data pengguna ke pihak ketiga.
Sanct tersedia gratis untuk iPhone dalam bahasa Indonesia, Inggris, Melayu, dan Hindi, sementara versi Android belum tersedia. Saat resmi meluncur di Indonesia, aplikasi ini sudah memiliki sekitar 5.000 pengguna.
Catatan Redaksi. Membatasi jaringan sebelum fitur lain terbuka mengingatkan pada aplikasi Path pada awal 2010-an, yang membatasi pertemanan hingga 150 orang berdasarkan angka Dunbar, perkiraan jumlah hubungan sosial yang bisa dijaga otak manusia secara bermakna. Pendekatan ini berbeda dari media sosial arus utama yang mengandalkan linimasa publik dan algoritma untuk memperluas jangkauan, sehingga makin sempit lingkaran yang melihat sebuah unggahan, makin kecil risiko unggahan itu ditafsirkan di luar konteks aslinya.
Sumber: Sanct Social.





