
Di tengah persaingan merek yang berlomba menarik perhatian lewat konten viral, Godrej Consumer Products Indonesia memilih strategi berbeda untuk produk antinyamuk HIT. Alih-alih mengejar tren singkat di media sosial, HIT membangun kampanye jangka panjang bertajuk #IndonesiaBebasDBD yang menghubungkan brand dengan isu kesehatan masyarakat, yaitu pencegahan demam berdarah dengue (DBD).
Edukasi sebagai Fondasi Kampanye
Kampanye ini menyajikan artikel dan informasi edukatif tentang penyebaran DBD serta dampaknya bagi masyarakat, dengan konten yang telah tersedia sejak 2024. Situs resmi HIT juga dilengkapi fitur “Alert System” yang menampilkan data kasus DBD di berbagai wilayah, dengan rujukan informasi dari Kementerian Kesehatan. Selain itu, HIT mengedukasi publik soal pendekatan 3M dalam mencegah perkembangbiakan nyamuk, dengan menempatkan isu kesehatan di depan produk yang mereka jual.
Menjangkau Sekolah, Bukan Sekadar Simpati
Pendekatan serupa juga diterapkan lewat kegiatan edukasi di lingkungan sekolah. Dibandingkan membuat aksi publisitas yang sekadar mengejar simpati atau interaksi di media sosial, HIT memilih memberikan edukasi langsung soal pencegahan DBD kepada siswa, sebuah langkah yang dinilai membangun kepercayaan lebih kuat dibanding kampanye satu kali yang cepat dilupakan.
Mengapa Pendekatan Ini Dinilai Lebih Tahan Lama
Menurut analisis yang dikutip Univest terkait Godrej Consumer Products, kesadaran terhadap penyakit yang ditularkan vektor cenderung tetap mendapat perhatian pemerintah maupun konsumen, sehingga kategori produk pengendali nyamuk relatif tidak terlalu terdampak saat masyarakat menekan pengeluaran non-esensial. Karena DBD menyangkut kepentingan luas masyarakat Indonesia, isu yang menjadi dasar kampanye HIT dinilai tetap relevan tanpa harus terus berganti pesan demi mengikuti tren.
Strategi ini menegaskan perbedaan antara kampanye yang hanya menarik perhatian sesaat dan kampanye yang membangun ingatan jangka panjang. Sebuah iklan viral mungkin hanya diingat sebagai iklan, sementara kampanye edukatif berpotensi membuat audiens mengingat masalah yang diangkat sekaligus peran produk dalam membantu mengatasinya.
Sumber: Godrej Consumer Products Indonesia.





