Program PIJAR Pelindo 2026: Latih 20 Disabilitas Netra di Semarang

Program PIJAR Pelindo 2026: Latih 20 Disabilitas Netra di Semarang

PT Pelindo Sinergi Lokaseva (PT PSL) kembali menjalankan program tanggung jawab sosial Sahabat Inspiratif Pelindo – PIJAR (Pijat Netra Berdikari) pada 2026. Memasuki tahun ketiga, program ini diperluas ke Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang, dengan melatih 20 penyandang disabilitas netra menjadi terapis pijat tradisional.

Senior Vice President Sekretariat Perusahaan PT PSL, Dewi Fitriyani, mengatakan program ini dirancang tidak sekadar memberi bantuan, tetapi membekali peserta dengan keterampilan agar mampu mandiri secara ekonomi. Di Semarang, pelaksanaan program menggandeng Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) setempat serta Dinas Sosial, mencakup sosialisasi, pelatihan dan sertifikasi teknik pijat dasar, pendampingan, hingga pemberian sarana pendukung praktik.

Bacaan Lainnya

Berlanjut Sejak 2024

Program PIJAR pertama kali digulirkan pada 2024 melalui kolaborasi dengan PERTUNI Cabang Jakarta Utara, meliputi pelatihan, sertifikasi, dan bantuan alat praktik. Setahun kemudian, PT PSL menambah dukungan berupa fasilitas praktik pijat di Terminal Penumpang Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok. Hingga tahun ini, program telah menjangkau total 70 penyandang disabilitas netra di Jakarta dan Semarang, dengan sebagian peserta sudah aktif membuka layanan pijat mandiri atau bekerja di usaha kesehatan tradisional.

Lurah Karangrejo, Dwi Cahyono, mengapresiasi langkah PT PSL yang dinilai membantu meningkatkan kesejahteraan warga secara mandiri, sekaligus berharap program pemberdayaan serupa dapat diperluas ke sektor UMKM. Ketua PERTUNI Semarang, Achyani, yang juga menjadi peserta sekaligus instruktur pijat netra, menyampaikan program ini membuka peluang bagi penyandang disabilitas netra untuk memperoleh penghasilan dari keterampilan yang dimiliki.

PT PSL menyebut program PIJAR sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak, serta pengurangan kesenjangan. Perusahaan menyatakan akan terus mengembangkan program pemberdayaan serupa untuk memperluas dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Catatan Redaksi. Pijat tradisional lama menjadi jalur pemberdayaan ekonomi yang umum bagi penyandang disabilitas netra di Indonesia, karena mengandalkan kepekaan indra peraba dan sudah memiliki jenjang sertifikasi kompetensi tersendiri di bidang terapi pijat kesehatan. Program seperti PIJAR biasanya berjalan lewat skema TJSL atau tanggung jawab sosial perusahaan BUMN, yang mewajibkan penyisihan sebagian laba untuk pemberdayaan masyarakat sekitar wilayah operasi. SDGs yang disinggung dalam artikel merujuk pada 17 target pembangunan berkelanjutan yang disepakati PBB, dan indikator seperti pengentasan kemiskinan serta pekerjaan layak kerap dipakai perusahaan sebagai kerangka pelaporan dampak sosial mereka.

Sumber: PT Pelindo Sinergi Lokaseva.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan