
Aceh, 30 Januari 2026 – BSI Maslahat membangun keceriaan anak korban banjir Aceh melalui aktivitas bermain dan pendampingan psikososial. Sebanyak 250 anak diajak menikmati kegiatan rekreatif di Mutiara Water Park, Langsa, pada Sabtu (17/1). Anak-anak bermain air di wahana yang aman dan terpantau oleh relawan terlatih. Selain itu, mereka juga mengikuti sesi pendampingan psikososial berupa dongeng untuk membantu memulihkan rasa aman dan mengurangi trauma pascabencana. Kegiatan ini turut dilengkapi dengan pemberian perlengkapan sekolah, meliputi tas, buku tulis, buku gambar, alat tulis, botol minum, dan tempat makan sebagai dukungan untuk mengembalikan semangat belajar anak terdampak banjir.
Aktivitas ini membuka ruang relaksasi bagi anak yang selama beberapa minggu terakhir mengalami tekanan psikologis akibat banjir bandang. Melalui sesi bermain tersebut, anak dapat mengalihkan diri dari rasa takut, berinteraksi dengan teman sebaya, serta menata kembali emosi yang sempat terguncang. Para fasilitator kemudian melanjutkan pendampingan psikososial berupa dongeng yang dirancang untuk memantik imajinasi, merangsang keberanian, dan memperkuat resiliensi anak. Melalui cerita yang hangat, anak didorong mengungkapkan perasaan, membagikan pengalaman, dan memahami bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi masa sulit.
Program pemulihan anak ini hadir di tengah dampak besar yang masih dirasakan masyarakat Aceh. Pada akhir November 2025, Aceh dilanda curah hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan longsor di banyak wilayah. Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah korban meninggal mencapai 1.201 orang, di mana 562 di antaranya berasal dari Aceh pada Sabtu, (24/01). Lebih dari 113.900 warga mengungsi ke lokasi yang tersebar di sejumlah kabupaten, termasuk Aceh Utara, Gayo Lues, dan Pidie Jaya sebagai tiga wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak. Sebanyak 170.050 bangunan mengalami kerusakan pada tingkat ringan hingga berat, sementara fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah, jembatan, dan ruas jalan turut terdampak. Dalam situasi seperti ini, anak menjadi kelompok yang paling rentan dan membutuhkan perhatian khusus. Banyak anak kehilangan rumah, terpisah dari teman sekolah, serta mengalami ketakutan mendalam terhadap suara hujan atau aliran air.
Sejak hari pertama bencana, BSI Maslahat telah mengambil peran aktif dalam penanggulangan dan penyaluran bantuan darurat bagi warga terdampak. Tim turun langsung ke lapangan untuk memberikan dukungan evakuasi, mendistribusikan kebutuhan mendesak, dan melakukan asesmen terhadap kebutuhan penyintas, terutama anak. Berdasarkan data tersebut, BSI Maslahat kemudian membentuk Zona Anak sebagai pusat aktivitas pemulihan psikososial yang dapat diakses oleh warga. Zona ini didirikan di lima lokasi yang tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa, dengan total penerima manfaat 250 anak. Melalui pendekatan terorganisasi,
setiap zona berfungsi sebagai ruang aman untuk belajar, bermain, dan mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kondisi emosional anak.
“Saya senang sekali bisa berenang. Saya juga dapat bingkisan, buku sekolah, buku gambar, jajanan, dan pensil warna. Sering-sering ajak kami ya,” ujar Fathir (10), salah satu anak penerima manfaat.
Senada dengan Fathir, Bila (9) juga mengungkapkan kebahagiaannya bermain bersama teman-temannya. “Saya senang bisa berenang dengan teman-teman, bisa tertawa dan main bareng. Ternyata kami lebih senang main air di kolam daripada main di banjir. Terima kasih sudah ajak kami main,” tuturnya.
Melalui rangkaian program pemulihan psikososial ini, BSI Maslahat menegaskan komitmennya untuk hadir bersama masyarakat Aceh, khususnya anak-anak yang menjadi kelompok paling terdampak. Dukungan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga pemulihan kondisi emosional dan semangat belajar mereka agar dapat kembali menjalani keseharian dengan lebih aman dan percaya diri. BSI Maslahat berharap program ini menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat ketahanan psikologis anak serta membangun harapan baru bagi keluarga penyintas bencana di Aceh.




