
Di balik hiruk-pikuk Jakarta sebagai kota metropolitan, kawasan Rorotan di Jakarta Utara masih menyimpan hamparan sawah yang menjadi sumber penghidupan sejumlah warga. Para petani di sana terus mengolah lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan, meski harus berjuang mendapatkan modal usaha yang memadai.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Unit Rorotan, yang berada di bawah supervisi Branch Office Tanjung Priok Region 6/Jakarta 1, menghadirkan layanan pendampingan dan akses pembiayaan bagi para petani setempat. Pinjaman modal yang disalurkan dimanfaatkan petani untuk membeli bibit, pupuk, hingga memenuhi kebutuhan operasional pengolahan lahan lainnya.
Membangun Kepercayaan Petani
Mega Amalliyah, Mantri BRI Unit Rorotan, mengaku proses meyakinkan petani untuk mengakses pembiayaan perbankan tidak mudah. Sebagian petani sebelumnya enggan mengajukan pinjaman ke bank karena menganggap persyaratannya rumit, sehingga lebih memilih meminjam dari rentenir dengan bunga tinggi. Melalui pendekatan personal dan penjelasan yang sederhana, Mega perlahan berhasil membangun kepercayaan mereka terhadap layanan BRI.
Dedikasi tersebut juga tercermin dari upaya Mega menjangkau lokasi persawahan yang aksesnya tidak mudah, termasuk melewati area pemakaman dan memanjat dinding pembatas antara permukiman dan area sawah. Upayanya membuahkan hasil, sebab kini para petani Rorotan mulai mempercayakan kebutuhan permodalan usaha mereka kepada BRI.
BRI menyatakan akan terus bersinergi dengan petani Rorotan melalui dukungan permodalan dan pendampingan berkelanjutan, dengan harapan dapat mendorong produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan petani di tengah kawasan urban Jakarta.
Catatan Redaksi. Mantri di BRI adalah sebutan untuk petugas lapangan yang mendatangi langsung nasabah di desa atau sentra usaha kecil, bukan menunggu di kantor cabang, model layanan yang sudah lama jadi ciri khas penyaluran kredit mikro BRI lewat program seperti Kupedes. Pendekatan jemput bola ini penting karena nasabah kecil seperti petani sering terkendala jarak, dokumen, dan rasa tidak percaya pada prosedur formal, sehingga tanpa pendampingan langsung mereka lebih rentan terjerat pinjaman informal berbunga tinggi dari rentenir.
Sumber: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.





