
PT Waskita Beton Precast Tbk mencatat kenaikan skor Green Product Readymix pada Batching Plant WSBP Pegangsaan, dari sebelumnya 86,5 menjadi 90,5. Penilaian tersebut dilakukan oleh Green Product Council Indonesia, dan batching plant ini tetap mempertahankan Green Label predikat Gold.
Kenaikan skor ditopang oleh perbaikan pada beberapa aspek, mulai dari perizinan lingkungan, pemanfaatan material ramah lingkungan, efisiensi sumber daya fosil, hingga kemandirian suplai material. Izin pemanfaatan fly ash sebagai bahan baku alternatif naik dari 7 ke 9 poin, sementara izin lingkungan batching plant naik dari 3 ke 5 poin.
Baca juga:
- Waskita Beton Precast Raih TOP GRC Awards 2026
- Respon Cepat, Koordinasi Tepat, Skor Kepuasan Pelanggan WSBP Naik Lagi jadi 91,9
Efisiensi Energi dan Emisi
Fly ash digunakan secara konsisten sebagai substitusi semen dengan rasio sekitar 18% dari berat semen pada produk beton kategori FA. Selain itu, optimalisasi penggunaan bahan bakar solar turut menekan emisi gas rumah kaca dari 5,9 menjadi 4,32 kgCO2e per meter kubik beton. Perseroan juga memaksimalkan suplai batu split secara mandiri dari Quarry WSBP untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal.
Kepala Divisi Corporate Secretary Waskita Beton Precast, Fandy Dewanto, mengatakan kepedulian terhadap lingkungan harus tercermin dalam operasional sehari-hari, mulai dari pemanfaatan material alternatif hingga efisiensi sumber daya. Menurutnya, peningkatan skor ini merupakan hasil dari proses perbaikan yang terus dilakukan perusahaan.
Batching Plant WSBP Pegangsaan mampu memproduksi beton Readymix hingga 7.392 meter kubik per bulan. Plant ini sebelumnya menyuplai proyek LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome–Manggarai yang kini sudah beroperasi, dan saat ini melayani proyek Sistem Tata Air Pompa Kayu Putih, Pompa Kampung Sawah, Jakarta Sewerage Zona 1, Rumah Pompa Pegangsaan, serta kebutuhan beton segmen retail.
Catatan Redaksi. Green Label dari Green Product Council Indonesia adalah sertifikasi yang menilai dampak lingkungan suatu produk sepanjang proses produksinya, dari bahan baku hingga emisi yang dihasilkan, bukan hanya hasil akhirnya. Fly ash sendiri adalah abu sisa pembakaran batu bara di PLTU yang biasa dianggap limbah, namun dapat menggantikan sebagian semen karena punya sifat pengikat serupa, sehingga pemakaiannya sekaligus mengurangi kebutuhan semen baru dan emisi karbon dari produksinya. Satuan kgCO2e sendiri menyatakan total gas rumah kaca yang disetarakan dengan karbon dioksida, cara umum untuk membandingkan jejak emisi antar proses produksi.
Sumber: PT Waskita Beton Precast Tbk.





