
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 91,2% secara tahunan (year-on-year) pada semester I-2026. Pencapaian ini ditopang oleh ekspansi bisnis, terutama pada segmen pembiayaan konsumer, sembari perseroan tetap menjaga kualitas portofolio melalui penerapan manajemen risiko yang ketat.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, menyebut hasil tersebut sebagai bukti konsistensi perusahaan dalam mengembangkan bisnis tanpa mengabaikan kualitas aset maupun kondisi pasar. Menurutnya, strategi perseroan tetap mengutamakan pertumbuhan yang sehat dan prinsip kehati-hatian.
Baca juga:
- BRI Finance Garap Pembiayaan Mobil Bekas secara Selektif
- BRI Finance: Pembiayaan Alat Berat Melonjak 231,99% di 2026
Pembiayaan Konsumer Jadi Pendorong Utama
Penyaluran pembiayaan pada segmen konsumer tumbuh signifikan, yakni 223,35% secara tahunan per Juni 2026. Lonjakan ini menegaskan semakin besarnya kontribusi segmen konsumer terhadap bisnis BRI Finance secara keseluruhan.
Ke depan, perseroan menargetkan komposisi portofolio pembiayaan dengan proporsi 75% untuk segmen konsumer dan 25% untuk segmen komersial. Target ini merupakan bagian dari strategi memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat sekaligus mempertahankan ruang pertumbuhan di segmen komersial.
Dhani menambahkan, penguatan sinergi dalam ekosistem BRI Group menjadi salah satu kunci strategi perusahaan untuk menjangkau kebutuhan pembiayaan yang semakin beragam. Perseroan juga menyatakan tetap mencermati dinamika industri, termasuk perkembangan suku bunga dan sektor otomotif, sambil mengarahkan ekspansi ke segmen-segmen dengan kualitas aset yang baik.
Catatan Redaksi. Dalam bisnis multifinance, pembiayaan konsumer umumnya berarti pembiayaan untuk kebutuhan pribadi seperti kendaraan atau barang konsumtif, sementara pembiayaan komersial menyasar kebutuhan usaha seperti alat berat atau modal kerja perusahaan. Menggeser komposisi ke arah konsumer biasanya dipilih karena basis nasabahnya lebih luas dan tersebar, sehingga risiko kredit tidak terlalu bergantung pada kondisi satu sektor usaha tertentu, berbeda dari pembiayaan komersial yang nilainya lebih besar per transaksi namun lebih sensitif terhadap siklus bisnis sektor terkait.
Sumber: PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).





