
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) memperkuat strategi pengelolaan jaringan cabang di tengah dinamika ekonomi dan perubahan daya beli masyarakat. Perusahaan menekankan produktivitas, efisiensi operasional, serta kualitas pembiayaan sebagai fondasi utama agar jaringan yang ada dapat menangkap peluang pasar di tengah persaingan industri pembiayaan yang semakin ketat.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan prinsip kehati-hatian. Menurutnya, pengelolaan jaringan yang tepat menjadi kunci keberlanjutan bisnis perusahaan ke depan.
“Dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis, kami menerapkan strategi bisnis yang adaptif dengan tetap memperhatikan kebutuhan konsumen dan profil risikonya. Prinsip kehati-hatian, efisiensi operasional, dan kualitas aset tetap menjadi prioritas agar pertumbuhan bisnis dapat terjaga secara berkelanjutan,” ujar Dhani.
Dari sisi bisnis, tren positif penjualan mobil menjadi peluang bagi BRI Finance untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor, antara lain melalui penguatan kerja sama dengan BRI Group dan mitra dealer. Dalam mengelola jaringan cabang, perusahaan menerapkan evaluasi berbasis potensi pasar, produktivitas, dan efisiensi operasional, sembari terus mengoptimalkan jaringan yang sudah ada.
Dhani menambahkan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya soal menjangkau pasar, tetapi memastikan setiap cabang memberi kontribusi optimal. “Untuk itu, kami memperkuat sinergi dengan BRI Group, meningkatkan efektivitas pemasaran, dan mengoptimalkan digitalisasi proses bisnis,” ujarnya.
Memasuki 2027, BRI Finance berencana melanjutkan pengembangan jaringan secara selektif berdasarkan potensi pasar dan kebutuhan bisnis. Strategi ini tidak semata berorientasi pada penambahan jumlah cabang, melainkan juga optimalisasi jaringan eksisting agar lebih produktif dan mampu mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Catatan Redaksi. Perusahaan multifinance seperti BRI Finance tidak menghimpun dana dari masyarakat seperti bank, melainkan menyalurkan pembiayaan (misalnya kredit kendaraan) dengan modal dari pinjaman bank atau pasar modal, sehingga kerja sama dengan dealer dan kualitas aset pembiayaan sangat menentukan kesehatan bisnisnya. Evaluasi jaringan cabang berbasis produktivitas juga lazim di industri ini karena biaya operasional cabang fisik tinggi, sementara proses pengajuan dan verifikasi kini banyak bergeser ke platform digital.
Sumber: PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).





