
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) berencana menerbitkan obligasi senilai Rp500 miliar pada kuartal IV 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat struktur pendanaan sekaligus mendukung kebutuhan ekspansi bisnisnya.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, menjelaskan bahwa rencana penerbitan tersebut masih dalam tahap persiapan. Waktu pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan pendanaan perusahaan dan kondisi pasar agar prosesnya berjalan optimal dan tetap prudent.
Baca juga:
- NPF BRI Finance Turun ke 1,82% per Juli 2026
- BRI Finance Siapkan Obligasi Rp500 Miliar Kuartal IV 2026
Melanjutkan Rekam Jejak di Pasar Obligasi
Rencana ini melanjutkan pengalaman BRI Finance memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Sebelumnya, perusahaan telah tiga kali menerbitkan surat utang, yakni Obligasi I BRI Finance Tahun 2022, Obligasi II BRI Finance Tahun 2023, dan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025.
Menurut Dhani, keputusan penerbitan obligasi tidak hanya mempertimbangkan suku bunga acuan, tetapi juga sejumlah indikator pasar lain seperti perkembangan yield, minat investor, kebutuhan likuiditas, serta kesesuaian tenor pendanaan dengan profil aset perusahaan. Di tengah BI Rate yang saat ini berada di level 5,75%, biaya pendanaan menjadi salah satu faktor penting yang terus dipantau sebelum eksekusi rencana tersebut.
Pasar Surat Utang Multifinance Masih Lesu
Strategi ini dijalankan di tengah dinamika pasar surat utang multifinance. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan surat utang multifinance hingga Juli 2026 tercatat Rp14,57 triliun, turun 41,8% secara tahunan dari Rp25,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini lebih dalam dibandingkan koreksi total penerbitan surat utang korporasi yang turun 16,2% menjadi Rp112,31 triliun, sehingga kontribusi multifinance terhadap total penerbitan surat utang korporasi menyusut menjadi sekitar 13% dari sebelumnya 18,7%.
Meski demikian, BRI Finance menyatakan tetap membuka peluang pendanaan melalui pasar obligasi secara disiplin, dengan mengutamakan keseimbangan antara dukungan pertumbuhan pembiayaan, kecukupan likuiditas, dan efisiensi biaya pendanaan.
Sumber: BRI Finance.





