
Musim belanja 10.10, 11.11, dan 12.12 selalu mencatat rekor transaksi di Indonesia. Kementerian Perdagangan mencatat Harbolnas 2025 menyumbang transaksi hingga Rp36,4 triliun dalam sepekan, naik 17 persen dari tahun sebelumnya, dengan penjualan brand lokal yang bisa melonjak 7 hingga 9 kali lipat pada hari puncak. Namun menurut perusahaan teknologi ritel Fynd, angka gross merchandise value (GMV) yang tinggi tidak selalu berarti laba yang besar bagi brand.
Dalam whitepaper bertajuk Megasale Playbook, Fynd merangkum lima hal yang perlu disiapkan brand agar strategi promo tidak berhenti pada lonjakan penjualan sesaat. Pertama, brand disarankan menghitung laba riil per pesanan, bukan sekadar angka penjualan, mengingat potongan biaya platform dan logistik kini mencapai 10 hingga 20 persen dari harga jual sejak penyesuaian biaya pada Mei 2026. Kedua, kebocoran operasional seperti stok yang terlihat habis secara online padahal masih tersedia di toko fisik perlu diperbaiki sebelum lonjakan trafik terjadi, terutama bagi kategori fesyen yang rata-rata mengalami retur 30 hingga 40 persen pesanan.
Data Pelanggan dan Kombinasi Kanal
Poin ketiga menyoroti pentingnya brand mengenal pembelinya setelah transaksi di marketplace selesai, karena aturan platform membatasi kontak langsung dengan pembeli. Fynd menyarankan brand menyertakan manfaat tambahan seperti pendaftaran garansi atau layanan tukar ukuran agar pembeli punya alasan menghubungi kanal milik brand sendiri. Keempat, marketplace dan toko milik brand dinilai saling melengkapi: marketplace menjaring pembeli baru, sementara toko sendiri menjaga margin dan loyalitas pelanggan berulang.
Poin kelima menekankan pentingnya strategi lanjutan selama 45 hari setelah 12.12, dengan memisahkan pembeli baru dari pemburu diskon serta mengelola retur dan layanan pelanggan dalam satu sistem yang sama. “Promo bisa mendatangkan volume, tetapi yang menentukan apakah volume tersebut menjadi nilai jangka panjang adalah bagaimana brand mengelola stok, pengiriman, dan hubungan dengan pelanggan,” ujar Ronak Modi, Chief Business Officer Global Fynd.
Fynd sendiri menawarkan platform omnichannel commerce berbasis AI yang menyatukan pengelolaan inventaris, data pelanggan, dan pemrosesan pesanan lintas kanal. Sejak masuk ke Indonesia pada Maret 2026, platform ini telah digunakan oleh jaringan ritel global seperti Reliance Retail dan menjadi studi kasus di Harvard Business School.
Catatan Redaksi. Artikel ini bersumber dari whitepaper Fynd, penyedia platform omnichannel yang dibahas di dalamnya. GMV sendiri mengukur total nilai barang terjual sebelum dipotong biaya platform, ongkos kirim, retur, dan komisi, sehingga angka ini bisa terlihat besar meski laba bersih brand menyusut, berbeda dengan omzet atau laba yang sudah memperhitungkan semua potongan tersebut.
Sumber: Fynd.





