
Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Asia, Senin (26/10/2026), setelah sepekan sebelumnya mengalami koreksi tajam. Mengutip Investing.com, harga emas spot berada di kisaran US$3.995 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS tercatat di US$4.007 per troy ounce. Pada Jumat sebelumnya, harga emas spot bahkan sempat menembus di bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli 2026.
Kenaikan Harga Minyak Jadi Pemberat
Pelemahan emas sepekan terakhir, yang mencapai sekitar 4,1%, tak lepas dari lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak Brent naik sekitar 6,2% dalam sepekan dan mencetak penutupan mingguan tertinggi sejak pertengahan 2022, sebelum sedikit melemah pada awal pekan ini. Kenaikan harga energi berisiko memperpanjang tekanan inflasi, sehingga membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga meski emas biasanya diuntungkan sebagai aset lindung nilai inflasi.
Baca juga:
- Bitcoin Tertahan di US$80.000, Investor Tunggu Keputusan The Fed
- Prediksi Harga Emas Pekan Ini: Koreksi Naik ke US$4.066–4.108
Semua Mata Tertuju ke The Fed
Fokus pasar kini beralih ke pertemuan Federal Reserve yang berlangsung 27-28 Oktober 2026. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan ini, namun tetap mencermati sinyal kebijakan untuk Desember. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sekitar 78%, menyusul data inflasi konsumen dan produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di sekitar 5% turut membuat instrumen pendapatan tetap lebih menarik dibanding emas.
Investor juga menanti rilis indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) pada 29 Oktober, salah satu acuan utama The Fed dalam mengevaluasi laju inflasi. Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih sensitif terhadap kombinasi harga minyak, imbal hasil obligasi, dan arah kebijakan moneter, sementara ketegangan geopolitik yang belum mereda tetap berpotensi menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Sumber: Nanovest.





