
DBS Group Research merilis laporan bertajuk “Intentional AI: Connecting Intelligence, Capital and Outcomes” yang menyoroti pergeseran arah persaingan kecerdasan buatan (AI). Menurut laporan tersebut, seiring teknologi AI yang makin mudah diakses dan diterapkan secara luas, kecanggihan semata tidak lagi cukup untuk menjadi pembeda. Organisasi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu menerjemahkan kecerdasan menjadi hasil nyata dan terukur.
Peluang di Asia
Laporan ini menempatkan penuaan populasi, ketahanan iklim, dan inklusi keuangan sebagai tiga tantangan utama Asia yang sekaligus berpotensi menjadi pendorong inovasi dan investasi jangka panjang. DBS mencatat Asia telah unggul dalam penerapan AI pada sektor ekonomi riil, misalnya menyumbang 74% dari total instalasi robot industri global pada 2024, jauh di atas Eropa (16%) dan Amerika (9%). Namun dari sisi pendanaan, kawasan ini baru menerima sekitar 5,7% dari total USD270 miliar modal ventura yang mengalir ke perusahaan AI pada 2025, sementara hampir 80% justru terserap ke Amerika Utara.
Singapura disebut berpotensi mengambil peran sebagai pusat integrasi yang menghubungkan kekuatan Asia di bidang inovasi, manufaktur, keuangan, dan tata kelola, sehingga inovasi AI di kawasan ini lebih tepercaya dan menarik bagi investasi lintas negara.
Relevansi bagi Indonesia
Bagi Indonesia, temuan ini dinilai relevan mengingat besarnya jumlah pelaku UMKM dan masyarakat yang belum terlayani penuh oleh sektor keuangan formal, serta tingkat kerentanan terhadap risiko iklim. DBS menilai penerapan AI yang berorientasi pada hasil dapat memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat, terutama di tengah adopsi layanan digital yang terus meningkat dan populasi lanjut usia yang terus bertambah.
Catatan Redaksi. Modal ventura adalah pendanaan tahap awal ke startup berisiko tinggi dengan imbalan saham, bukan bunga seperti pinjaman bank. Besarannya mencerminkan kepercayaan investor pada pengembang teknologi, bukan seberapa luas teknologi itu dipakai, sehingga Asia bisa unggul dalam pemasangan robot industri namun tertinggal dalam modal ventura AI karena robot-robot itu umumnya dibeli dari produsen, bukan hasil investasi ke startup di kawasan ini.
Sumber: DBS Group Research / Bank DBS Indonesia.





