
FisTx Indonesia memperluas lini produk monitoring kualitas air tambak dengan merilis NAWASENA Nitrit. Varian ini melengkapi dua produk sebelumnya, NAWASENA Amonia dan NAWASENA Alkalinitas, sehingga kini petambak dapat memantau tiga parameter krusial sekaligus dalam satu rangkaian test kit.
Amonia, nitrit, dan alkalinitas dikenal sebagai parameter yang paling menentukan kondisi air tambak. Perubahan kecil pada ketiganya, jika terlambat terdeteksi, dapat memicu stres pada udang atau ikan budidaya hingga menurunkan performa panen. Dengan tambahan varian Nitrit, pengecekan rutin bahkan harian terhadap ketiga parameter itu menjadi lebih praktis.
Diproduksi Sepenuhnya di Indonesia
NAWASENA dikembangkan dan diproduksi 100 persen di Indonesia oleh divisi riset dan pengembangan FisTx. Menurut perusahaan, hal ini membuat biaya monitoring harian lebih terjangkau dibandingkan alat uji impor sejenis, sehingga pengecekan rutin tidak lagi menjadi beban tambahan bagi petambak dari berbagai skala usaha.
Dari sisi performa, FisTx mengklaim NAWASENA Water Test Kit tidak kalah dengan merek impor yang banyak beredar di pasar Indonesia. Produk ini menggunakan metode titrasi yang disebut memudahkan proses pengujian sekaligus memberikan hasil pembacaan yang cepat dan akurat.
CEO FisTx Indonesia, Rico Wisnu Wibisono, mengatakan kelengkapan tiga parameter ini bertujuan mendorong petambak beralih dari pendekatan berbasis perkiraan menjadi pengambilan keputusan berbasis data. Perusahaan menyarankan pengecekan kualitas air minimal satu kali sehari, dan lebih sering saat kondisi tambak tidak stabil, dengan uji laboratorium tetap diperlukan untuk analisis lanjutan.
NAWASENA Water Test Kit varian Amonia, Nitrit, dan Alkalinitas saat ini tersedia melalui WhatsApp resmi FisTx, Shopee, dan TikTok Shop.
Catatan Redaksi. Nitrit terbentuk dalam siklus nitrogen tambak, saat bakteri mengubah amonia dari sisa pakan dan kotoran menjadi nitrit sebelum akhirnya menjadi nitrat yang lebih aman bagi udang dan ikan. Dalam kadar tinggi, nitrit mengikat hemoglobin atau hemosianin dalam darah sehingga mengganggu pengangkutan oksigen, efeknya menyerupai racun karbon monoksida. Metode titrasi sendiri mengukur konsentrasi zat dengan meneteskan reagen hingga warna air berubah, lalu kadarnya dihitung dari banyaknya reagen yang terpakai.
Sumber: FisTx Indonesia.





