
PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN III, selaku Holding Perkebunan Nusantara, memperkenalkan platform digital bernama Sistem Penyelenggaraan Teknologi Informasi (PTI) dalam ajang Road to Danantara Technology, Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026. Acara yang diselenggarakan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) ini berlangsung di Auditorium Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Kamis (8/10).
Mengusung tema besar seputar inovasi digital dan penguatan ekosistem investasi nasional, forum tersebut menjadi ajang bagi PTPN III untuk memaparkan capaian transformasi teknologi informasinya. Kepala Divisi Transformasi Digital PTPN III, Prasetyo Mimboro, menjelaskan bahwa platform PTI dirancang untuk memperkuat tata kelola, manajemen risiko, pemantauan kinerja, hingga pengukuran dampak implementasi teknologi di seluruh entitas PTPN Group.
Baca juga:
- PTPN Group Kerahkan Tim Damkar Atasi Karhutla 2026 di Riau-Kalimantan
- Holding Perkebunan Nusantara Perluas Jejak Teh Indonesia, Produk PTPN I Masuk Gerai Legendaris Twinings London
Satu Dashboard untuk Seluruh Entitas
Platform PTI mengintegrasikan berbagai fungsi mulai dari perencanaan program kerja, pengelolaan anggaran, pemantauan indikator kinerja, pengukuran kematangan tata kelola TI, pengawasan keamanan siber, hingga evaluasi program digitalisasi. Melalui dashboard terpadu ini, manajemen Holding dapat memantau perkembangan transformasi digital di seluruh anak usaha secara berkala dan mengambil keputusan berbasis data.
Prasetyo menegaskan bahwa transformasi digital PTPN Group tidak berhenti pada pengembangan aplikasi, melainkan juga menyelaraskan proses bisnis antara Holding, Subholding, dan entitas operasional. Arah ini sejalan dengan Rencana Strategis Teknologi Informasi (RSTI) PTPN Group periode 2025–2029 yang berfokus pada AgriTech, integrasi sistem, serta pengembangan sumber daya manusia digital melalui Digital Academy.
Dalam roadmap tersebut, PTPN Group menetapkan 15 use case transformasi digital untuk lima tahun ke depan, dengan tujuh inisiatif prioritas pada 2025–2026, antara lain pemantauan kesehatan tanaman, optimalisasi panen, pemantauan pabrik secara real-time, serta dashboard kinerja kebun dan pabrik. Perusahaan juga membuka peluang platform PTI dikembangkan menjadi layanan Software as a Service (SaaS) yang bisa dimanfaatkan BUMN lain untuk memperkuat tata kelola teknologi informasi mereka.
Catatan Redaksi. Pengukuran kematangan tata kelola TI biasanya memakai kerangka seperti COBIT, yang menilai sejauh mana pengelolaan risiko, keamanan siber, dan kinerja TI sebuah organisasi sudah terstandardisasi dan terukur, bukan sekadar berjalan secara ad hoc. Adapun SaaS (Software as a Service) berarti perangkat lunak diakses lewat internet dari server penyedia, sehingga pengguna baru seperti BUMN lain bisa memanfaatkannya tanpa membangun sistem dan infrastruktur sendiri dari nol.
Sumber: PT Perkebunan Nusantara III (Persero).





