
Perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, FisTx, menjadi salah satu exhibitor yang paling banyak menarik perhatian pengunjung dalam ajang FARM 2026 yang digelar Minapoli di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, akhir September lalu. Dari booth nomor 15C, perusahaan ini memamerkan tiga lini solusi budidaya udang sekaligus, mulai dari sistem disinfeksi air, penanganan udang sakit, hingga alat uji kualitas air tambak.
Forum Konsolidasi Industri Udang
FARM 2026 tercatat dihadiri lebih dari 350 peserta yang didominasi teknisi dan pemilik tambak udang dari berbagai daerah. Selain seminar dan pameran, acara ini juga diwarnai pengukuhan pengurus daerah Shrimp Club Indonesia (SCI) untuk wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Bangka Belitung oleh Ketua Umum SCI, Prof. Dr. Andi Tamsil, MS., IPM — menegaskan posisi FARM sebagai forum konsolidasi industri, bukan sekadar pameran produk.
Teknologi Elektrokimia Pengganti Kaporit
Di antara produk yang dipamerkan, Cakra Elektrolisis menjadi pusat perhatian pengunjung booth FisTx. Teknologi ini diklaim sebagai sistem sterilisasi air dengan pendekatan elektrokimia pertama yang diterapkan dalam budidaya udang di Indonesia, menggantikan peran kaporit dan disinfektan kimia konvensional.
Rico Wisnu Wibisono, Founder & CEO FisTx, mengaku sempat terkejut dengan besarnya antusiasme pengunjung. “Banyak pemilik tambak yang penasaran karena ini teknologi elektrokimia pertama yang diterapkan di budidaya udang Indonesia — mereka datang bukan cuma untuk lihat, tapi juga untuk memastikan sendiri bagaimana cara kerjanya bisa menggantikan kaporit,” ujarnya.
Dalam salah satu sesi seminar, Area Manager Adisseo, Martha Mamora, turut menekankan bahwa feed additive saja tidak cukup untuk menjamin performa budidaya yang optimal, dan harus diimbangi manajemen kualitas air, pakan, serta biosecurity yang baik. Sejak diperkenalkan awal 2026, Cakra Elektrolisis disebut telah diterapkan di sejumlah titik budidaya di Pulau Jawa, antara lain Banyuwangi, Jepara, Purworejo, dan Serang.
Sumber: FisTx Indonesia.





