
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat pada perdagangan Rabu (7/10/2026) dan mendekati level US$90 per barel. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat ancaman badai di Teluk Meksiko serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan laporan Reuters, WTI naik sekitar 0,92 persen menjadi US$90,25 per barel pada Rabu pagi.
Dianggap Koreksi, Bukan Pembalikan Tren
Meski harga menguat, analis dari Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai penguatan ini masih berpotensi menjadi koreksi dalam tren bearish yang lebih besar. Menurutnya, WTI sebelumnya telah menembus zona support US$89–US$88 pada timeframe harian, dan breakout tersebut menjadi sinyal perubahan struktur harga ke arah bearish.
Baca juga:
- Harga Minyak WTI Berpotensi Lanjut Turun ke Level 96 Dolar
- Harga Emas Diprediksi Terkoreksi meski Dolar AS Melemah
“WTI telah melakukan breakout pada zona support 89–88 dan saat ini mengalami koreksi naik. Jika koreksi mencapai area Sell Limit dan kembali mendapatkan tekanan jual, harga berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support 86,76–84,95,” ujar Geraldo.
Dua Sentimen yang Saling Berlawanan
Dari sisi fundamental, penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat lebih dari 2 juta barel turut memberi dukungan terhadap harga karena mencerminkan pasokan domestik yang lebih ketat. Namun sebelumnya, pasar juga tertekan oleh peningkatan ekspor Timur Tengah dan komitmen negara-negara G7 untuk menambah pasokan dari cadangan darurat, yang sempat meredakan kekhawatiran soal keterbatasan suplai global.
Geraldo menjelaskan bahwa risiko gangguan pasokan memang menjadi katalis positif bagi harga WTI dalam jangka pendek, tetapi secara teknikal harga masih berada dalam struktur bearish. Selama belum ada perubahan struktur yang lebih kuat, penguatan saat ini tetap dipandang sebagai koreksi sementara menuju area support berikutnya di kisaran US$86,76 hingga US$84,95.
Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan badai di Teluk Meksiko, data persediaan minyak AS, serta dinamika ketegangan di Timur Tengah, karena ketiga faktor ini dapat mengubah arah dan volatilitas harga WTI secara cepat.
Catatan Redaksi. Analisis seperti ini memakai pendekatan teknikal, membaca pola harga historis untuk menebak arah ke depan, terpisah dari faktor fundamental seperti stok minyak atau geopolitik. Level support dan resistance adalah titik harga yang secara historis sering menahan pelemahan atau penguatan, sehingga dipakai analis untuk memperkirakan batas pergerakan harga selanjutnya. Artikel ini bersumber dari analisis Dupoin Futures, pialang berjangka yang turut menyediakan layanan perdagangan komoditas termasuk minyak.
Sumber: Dupoin Futures (PT. Dupoin Futures Indonesia).





