
Harga Bitcoin menunjukkan ketahanan setelah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 16 September 2026 menjadi kisaran 3,75%-4,00%. Pada Kamis (17/9/2026), BTC diperdagangkan di sekitar US$76.393, menguat 1,23% dalam 24 jam terakhir seiring pemulihan pasar kripto secara umum pasca keputusan FOMC yang sebelumnya banyak diantisipasi.
CEO dan Founder platform kripto FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kemampuan Bitcoin bertahan di atas US$75.000 menandakan pasar sudah banyak memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga tersebut. Menurutnya, perhatian pelaku pasar ke depan akan bergeser dari keputusan FOMC semata ke arah kebijakan moneter selanjutnya, inflasi, likuiditas, dan kondisi ekonomi global.
Baca juga:
- Data Ekonomi AS Pengaruhi Harga Bitcoin dan Ethereum, Kata Bittime
- Harga Bitcoin Turun ke US$78.100, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Level US$75.000-US$78.000 Jadi Kunci
Analisis teknikal FLOQ menyebut area US$75.000-US$76.000 sebagai level penting jangka pendek. Selama bertahan di atas kisaran itu, Bitcoin berpeluang menguji resistance berikutnya di US$78.000-US$78.200. Sebaliknya, penurunan di bawah US$74.000 berisiko membawa harga kembali ke area support US$72.000-US$74.000.
Tekanan likuidasi paksa di pasar kripto juga tercatat mereda, dengan total likuidasi Bitcoin dalam 24 jam turun 60,18% menjadi US$84,36 juta dan likuidasi posisi long turun hingga 83,18%. Namun volume perdagangan ikut turun sekitar 24,52%, sehingga kenaikan harga dinilai belum sepenuhnya ditopang minat beli baru dalam skala besar.
Dana Institusional Masih Keluar
Di sisi lain, arus dana institusional belum sepenuhnya kembali. Data 17 September menunjukkan spot Bitcoin ETF AS mengalami arus keluar bersih sekitar US$295,9 juta pada 16 September, melanjutkan arus keluar US$450,4 juta pada hari sebelumnya. Yudho memperkirakan pergerakan Bitcoin masih akan volatil dalam beberapa pekan ke depan karena pasar tetap sensitif terhadap data inflasi, pasar tenaga kerja, imbal hasil obligasi AS, dan sinyal kebijakan The Fed berikutnya.
Sumber: FLOQ.





