
Mimin, platform teknologi percakapan B2B regional, mengumumkan langkah ekspansinya ke Filipina melalui kemitraan afiliasi dengan TechShake, penggerak ekosistem startup yang berbasis di Manila. Kolaborasi ini menjadi babak baru bagi Mimin setelah sebelumnya menjalin kerja sama dengan sejumlah bisnis di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Sebagai bagian dari ekspansi ini, Mimin akan menjalin komunikasi dengan pelaku bisnis, penyedia teknologi, komunitas industri, hingga pemangku kepentingan ekosistem di Filipina untuk memetakan kebutuhan lokal sekaligus peluang penerapan conversational AI. Lewat TechShake, Mimin berharap dapat memperluas koneksi dalam ekosistem inovasi di negara tersebut.
Mengapa Filipina Dinilai Potensial
Perusahaan menilai Filipina sebagai pasar yang menjanjikan karena hubungan antara bisnis dan pelanggan di sana banyak dibangun lewat interaksi langsung. Pelanggan terbiasa bertanya, mengharapkan respons cepat, dan membangun kepercayaan melalui dialog. Platform Mimin dirancang untuk mengintegrasikan interaksi berbasis AI, transaksi, dukungan agen manusia, serta interaksi lanjutan pelanggan dalam satu alur yang terhubung, sehingga mengurangi fragmentasi komunikasi bisnis dengan pelanggannya.
Chief Operating Officer dan Co-Founder Mimin, Bayu Eka Putra, menyebut kolaborasi dengan TechShake sebagai kesempatan untuk saling belajar dan membangun hubungan dengan ekosistem setempat. Sementara Chief Executive Officer TechShake, Kotaro Adachi, menyambut baik kemitraan ini karena dinilai membuka ruang pertukaran ide dan peluang kolaborasi baru bagi ekosistem Filipina.
Mimin saat ini telah melayani lebih dari 50.000 bisnis di enam negara dan menginisiasi ConverXion, forum regional yang mempertemukan pemimpin bisnis dan praktisi customer experience. Adapun TechShake, yang didirikan pada 2016, dikenal lewat penyelenggaraan acara, layanan konsultasi, dan konferensi inovasi IGNITE di Filipina.
Catatan Redaksi. Conversational AI merujuk pada teknologi yang memungkinkan bisnis berinteraksi dengan pelanggan lewat percakapan otomatis, seperti chatbot, namun tetap bisa terhubung ke agen manusia saat dibutuhkan. Pendekatan ini populer karena banyak bisnis biasanya memakai kanal terpisah untuk chat, pembayaran, dan layanan purnajual, sehingga riwayat percakapan pelanggan sering terputus setiap kali berpindah kanal atau petugas.
Sumber: Mimin.





