
School of Design BINUS University bersama Arcolabs kembali menggelar Media x Space, pameran seni dan desain tahunan berskala internasional. Pada edisi 2026 ini, acara mengusung tema “Future, Time, and Ecology: Ancestral Knowledge Echoing to the Future”, yang mengajak pengunjung menelusuri kembali hubungan antara manusia, waktu, dan lingkungan melalui karya seni dan desain lintas disiplin.
Pameran berlangsung di dua lokasi, yaitu BINUS @FX lantai F6 pada Senin-Jumat pukul 10.00-18.00 WIB, dan Atrium fX Mall lantai F3 yang dibuka setiap hari pukul 10.00-20.00 WIB. Sebelum pameran utama, rangkaian acara “Road to Media x Space” telah digelar lebih dulu, berupa workshop bersama sastrawan dan penggiat filsafat Ayu Utami, pengajar Hong Kong City University Ray LC, serta pengajar BINUS University Adi Sundoro, yang dilanjutkan dengan talkshow dan exhibition.
Baca juga:
- Media X Space Menempati Ruang Publik Untuk Desain dan Seni Asia
- Media X Space Menempati Ruang Publik Untuk Desain dan Seni Asia
Pengetahuan Leluhur sebagai Sumber Inovasi
Dekan School of Design BINUS University, Prof. Dr. Dra. Mita Purbasari Wahidiyat, M.F.A., menyampaikan bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Menurutnya, pengetahuan leluhur dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan solusi kreatif yang relevan dengan tantangan masa kini, sekaligus mendorong lahirnya karya yang peduli terhadap lingkungan dan nilai budaya.
Kurator Media x Space 2026, Jeong Ok Jeon dan Patricia Adele, menjelaskan bahwa pameran ini menjadi etalase bagi publik untuk mengeksplorasi keterkaitan masa lalu, kini, dan masa depan melalui karya seni dan desain. Rangkaian workshop, talkshow, dan exhibition dalam Road to Media x Space dirancang untuk membangun interaksi dan diskusi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Media x Space 2026 diselenggarakan oleh School of Design, program Master of Design BINUS Graduate Programme, serta Graphic Design and New Media International Programme BINUS University bekerja sama dengan Arcolabs. Acara ini diharapkan dapat terus menjadi wadah kolaborasi bagi akademisi, seniman, desainer, praktisi kreatif, dan masyarakat umum untuk mengembangkan ekosistem kreatif yang terbuka terhadap eksplorasi dan pertukaran pengetahuan.
Catatan Redaksi. Pendekatan menggabungkan pengetahuan leluhur dengan desain kontemporer ini dikenal luas di sekolah-sekolah desain dunia, biasanya lewat riset etnografi atas praktik, simbol, atau sistem pengetahuan masyarakat adat yang kemudian diterjemahkan ke metode kreatif masa kini. Tujuannya bukan sekadar meniru estetika masa lalu, melainkan mengambil cara pandang leluhur tentang hubungan manusia dan lingkungan sebagai dasar memecahkan masalah keberlanjutan yang dihadapi desain modern.
Sumber: School of Design BINUS University.





