KKN UGM Bantu Petani Tangani Hama Tikus dengan Penangkaran Burung Hantu

47

Hama tikus masih menjadi persoalan di masyarakat termasuk di daerah Semagar, Girimarto, Wonogiri. Hama tikus tidak hanya menyerang di satu lokasi, tetapi menyebar sampai dusun lainnya, seperti Dusun Demopo dan Dusun Semagar Duwur.

Kelompok Tani Sedyo Makmur yang digerakkan beberapa waktu belakangan ini sudah mulai menggalakkan budaya bertani organik kepada para petani. Sejauh ini, pertanian organik yang diterapkan sudah menjuarai kompetisi sebagai kelompok tani terbaik se-Kabupaten Wonogiri pada bulan April yang lalu.

“Kami pun pada awalnya tidak terpikirkan untuk menjuarai lomba tersebut, kami hanya mencoba untuk tidak malu-maluin kecamatan Girimarto di tingkat kabupaten,” ujar koordinator kelompok tani, Tarmo, Rabu (18/7).

Tarmo menyatakan banyak keuntungan dengan bertani organik seperti harga jual hasil pertanian organik di pasaran bisa dua kali lipat dibandingkan dengan hasil pertanian non-organik. Selain itu, bertani organik juga dapat mengembalikan unsur hara tanah dan bakteri yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.

Akan tetapi, Tarmo juga menyatakan bahwa bertani organik juga memiliki kekurangan. Ia mengeluhkan maraknya serangan hama tikus di ladangnya. Di sisi lain, dalam menanggulangi tikus, pertanian organik tidak boleh menggunakan racun tikus atau cara sejenis untuk mengatasinya. Hal itu, menurut Tarmo, karena pemakaian racun tikus serta pestisida jenis lain dapat mencemari keorganisan dari hasil taninya.

“Dalam bertani organik, petani dilarang menggunakan pupuk berbahan kimia maupun peptisida. Maka dari itu, pupuk yang digunakan terbuat dari kotoran sapi yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai pupuk tanaman,” jelas Tarmo.

Tim KKN-PPM UGM tahun 2018 yang berada di sana, akhirnya mengusulkan untuk menangkarkan burung hantu (Tyto alba) sebagai pengendali hama tikus yang ada di persawahan. Penangkaran tersebut terinspirasi dari petani yang ada di Pati, Demak dan Bantul dalam mengatasi masalah serupa.

“Semoga kami dalam memberdayakan burung hantu ini dapat berhasil. Dengan demikian, hal itu dapat membantu para petani dalam mencapai keberhasilan tanaman padi organik,” harap Hanif, salah satu mahasiswa KKN.